KANALSATU - Harapan hidup begitu kuat pada sebagian besar warga Suriah setelah bertahun-tahun negerinya yang dulu dikenal indah – hancur porak poranda karena perang saudara.
Krisis politik yang dilatari perbedaan keyakinan (meski satu agama) itu telah menenggelamkan harapan masa depan anak-cucunya sendiri. Bahkan, di bayangan masa esok -- kehancuran makin dalam sudah tergambar, setelah Rusia dan Iran secara terbuka menyatakan dukungan kepada pemerintah yang kebetulah syi'ah, sedang AS secara lugas menyatakan dukungan kepada tentara rakyat (pemberontak) yang mayoritas Islam Sunni.
Mereka yang tidak berprang, warga sipil biasa, terpaksa pergi meninggalkan negeri yang telah melahirkannya untuk melanjutkan hidup secara normal di negeri orang. Hidup yang lepas dari situasi mencekam, dan suara bising mesiu serta dentuman mematikan. Mereka tidak kuat lagi melihat ceceran darah sanak-saudara, kekerasan perang yang tak kenal belas kasih, meski sama –sama memekik nama Tuhan: “Allahu-Akbar”.
Pesan damai yang diajarkan agama tak lagi terdengar, terpendam oleh nafsu manusia yang masing-masing mengaku paling benar. Pesan Islam yang mendoktrin agar hidup damai dan saling mengasihi seolah telah rontok dari lubuk hati karena tertutup keangkuhan nafsu kelompok politik.
Mereka, sebagian besar warga yang masih wajar, ingin kabur meninggalkan keindahan negerinya yang telah berubah wajah menjadi “neraka”. Mereka ingin meninggalkan kota – kota legenda yang indah seperti Damsyik dan Homs – yang kini sudah kocar-kacir berantakan.
Tidak ada lagi dalam benaknya untuk bersantai seperti dulu di tempat-tempat yang nyaman, seperti Maaloula – sebuah bandar tempat wisata yang terletak di antara Damsyik dan Homs, atau bercengkerama cafe-cafe yang ada di Krak Des Chevaliers, kota Homs. Mereka tidak lagi berpikir bisa bersantai secara damai bersama keluarga di beranda rumag dan teras - teras yang penuh nuansa seni indah.
Namun tidak semua – dari mereka yang punya keinginan itu – berkesempatan bisa kabur dari negerinya. Hanya sebagian kecil (meski jumlahnya ratusan ribu) yang bernasib baik bisa “hijrah” ke negeri seberang – yakni daratan Eropa. Meski hanya berbekal satu tas ransel dan baju yang melekat. Meski harus bersabung nyawa, menyeberangi dahsyatnya ombak, menahan lapar dan haus, menguras keringan dan air mata. Pun demikian tidak sedikit yang selamat sampai di binir pantai Eropa.
Mereka menemukan harapan baru untuk tetap hidup, meski harus berjalan beratus-ratus kilometer dari tempatnya berlabuh, berkeringat dan tidak mandi berminggu-minggu-bahkan bulan. Mereka terus berjuang masuk meski terus di hadang di perbatasan beberapa negara di Eropa. Mereka tetap menerobos, tidak malu meski di halau, bahkan tidak sedikit yang ditendang dan dipukul. Mereka melupakan apapun statusnya saat Suriah. Mereka hanya merasa sebagai pengungsi pencari secercah kehidupan normal.
Meski demikian, tidak semua pengungsi bisa tertampung. Kalau pun sudah tertampung tapi harus menjalani proses administrasi yang memakan waktu berminggu-minggu, bahkan bulan. Mereka menjalani hidup seadanya di ladang penampungan pengungsi, bahkan banyak yang tidur di bawah langit. Entah sampai kapan.
Mereka yang terus berperang di Suriah memiliki prinsip bahwa Hidup untuk Berjuang. Tapi bagi mereka yang mengungsi, adalah sebailknya, yakni Berjuang untuk Tetap Hidup. Meski hidup berdesakan di penampungan, setidaknya masih ada secercah harapan untuk hidup lebih tenang - tanpa kebisingan yang mencekam karena suara bom dan aneka mesiu lainnya.
Meski sebentar lagi musim dingin, dan memungkinkan suhu di kawasan negara-negara tujuan pengungsi - terkadang minus, tapi wajah mereka sudah lebih cerah dibanding saat masih di Suriah.
Kita, warga Indonesia, dari kejauhan hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya..amin ya robbal alamin. (win5/foto: istimewa)
Krisis politik yang dilatari perbedaan keyakinan (meski satu agama) itu telah menenggelamkan harapan masa depan anak-cucunya sendiri. Bahkan, di bayangan masa esok -- kehancuran makin dalam sudah tergambar, setelah Rusia dan Iran secara terbuka menyatakan dukungan kepada pemerintah yang kebetulah syi'ah, sedang AS secara lugas menyatakan dukungan kepada tentara rakyat (pemberontak) yang mayoritas Islam Sunni.
Mereka yang tidak berprang, warga sipil biasa, terpaksa pergi meninggalkan negeri yang telah melahirkannya untuk melanjutkan hidup secara normal di negeri orang. Hidup yang lepas dari situasi mencekam, dan suara bising mesiu serta dentuman mematikan. Mereka tidak kuat lagi melihat ceceran darah sanak-saudara, kekerasan perang yang tak kenal belas kasih, meski sama –sama memekik nama Tuhan: “Allahu-Akbar”.
Pesan damai yang diajarkan agama tak lagi terdengar, terpendam oleh nafsu manusia yang masing-masing mengaku paling benar. Pesan Islam yang mendoktrin agar hidup damai dan saling mengasihi seolah telah rontok dari lubuk hati karena tertutup keangkuhan nafsu kelompok politik.
Mereka, sebagian besar warga yang masih wajar, ingin kabur meninggalkan keindahan negerinya yang telah berubah wajah menjadi “neraka”. Mereka ingin meninggalkan kota – kota legenda yang indah seperti Damsyik dan Homs – yang kini sudah kocar-kacir berantakan.
Tidak ada lagi dalam benaknya untuk bersantai seperti dulu di tempat-tempat yang nyaman, seperti Maaloula – sebuah bandar tempat wisata yang terletak di antara Damsyik dan Homs, atau bercengkerama cafe-cafe yang ada di Krak Des Chevaliers, kota Homs. Mereka tidak lagi berpikir bisa bersantai secara damai bersama keluarga di beranda rumag dan teras - teras yang penuh nuansa seni indah.
Namun tidak semua – dari mereka yang punya keinginan itu – berkesempatan bisa kabur dari negerinya. Hanya sebagian kecil (meski jumlahnya ratusan ribu) yang bernasib baik bisa “hijrah” ke negeri seberang – yakni daratan Eropa. Meski hanya berbekal satu tas ransel dan baju yang melekat. Meski harus bersabung nyawa, menyeberangi dahsyatnya ombak, menahan lapar dan haus, menguras keringan dan air mata. Pun demikian tidak sedikit yang selamat sampai di binir pantai Eropa.
Mereka menemukan harapan baru untuk tetap hidup, meski harus berjalan beratus-ratus kilometer dari tempatnya berlabuh, berkeringat dan tidak mandi berminggu-minggu-bahkan bulan. Mereka terus berjuang masuk meski terus di hadang di perbatasan beberapa negara di Eropa. Mereka tetap menerobos, tidak malu meski di halau, bahkan tidak sedikit yang ditendang dan dipukul. Mereka melupakan apapun statusnya saat Suriah. Mereka hanya merasa sebagai pengungsi pencari secercah kehidupan normal.
Meski demikian, tidak semua pengungsi bisa tertampung. Kalau pun sudah tertampung tapi harus menjalani proses administrasi yang memakan waktu berminggu-minggu, bahkan bulan. Mereka menjalani hidup seadanya di ladang penampungan pengungsi, bahkan banyak yang tidur di bawah langit. Entah sampai kapan.
Mereka yang terus berperang di Suriah memiliki prinsip bahwa Hidup untuk Berjuang. Tapi bagi mereka yang mengungsi, adalah sebailknya, yakni Berjuang untuk Tetap Hidup. Meski hidup berdesakan di penampungan, setidaknya masih ada secercah harapan untuk hidup lebih tenang - tanpa kebisingan yang mencekam karena suara bom dan aneka mesiu lainnya.
Meski sebentar lagi musim dingin, dan memungkinkan suhu di kawasan negara-negara tujuan pengungsi - terkadang minus, tapi wajah mereka sudah lebih cerah dibanding saat masih di Suriah.
Kita, warga Indonesia, dari kejauhan hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya..amin ya robbal alamin. (win5/foto: istimewa)
