Hasil Inovasi UMKM Bali Berhasil Pikat Investor

Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar


KANALSATU - Proyek NSLIC/NSELRED bersama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kembali menjembatani pertemuan antara para pelaku usaha asal Buleleng, Klungkung, dan Tabanan dengan para investor di dalam dan luar negeri.

Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar menyampaikan bahwa salah satu prioritas Kementerian Desa adalah pemulihan ekonomi pedesaan. Hal tersebut dilakukan melalui program Dana Desa yang tepat sasaran untuk pemberdayaan masyarakat dan dilakukan secara swakelola melalui Padat Karya Tunai Desa (PKTD).

PKTD dilakukan dengan melibatkan warga desa terutama mereka yang kehilangan pekerjaan, keluarga miskin, Pekka/Perempuan Kepala Keluarga, serta kelompok marginal lainnya.

“Telah banyak inovasi pengembangan ekonomi desa yang lahir dari desa dan menjadi kekuatan desa. Inovasi-inovasi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan perdesaan dari hulu ke hilir serta penguatan kelembagaan ekonomi desa yaitu BUMDesa/BUMDesma," jelasnya lebih lanjut.

Sebagai badan usaha milik desa, sebagian besar kepemilikan modal BUMDesa berasal dari desa tersebut. Untuk mendukung legalitas kelembagaan BUMDesa dan agar leluasa menjalankan usahanya, maka Pemerintah mengeluarkan UU No. 11/2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja.

Pada prinsipnya BUMDesa tidak mematikan usaha-usaha masyarakat desa yang sudah ada tetapi mengkonsolidasi usaha warga desa. Selain menjalankan peran ekonomi, BUMDesa juga berperan sebagai penjaga aset warisan budaya desa.

Abdul Halim mengatakan, Kementerian Desa berupaya lebih memperkuat kerja sama kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi ekonomi dan kelembagaan desa lokal.

"Dengan demikian, tujuan SDGs Desa dapat tercapai dalam hal Pertumbuhan Ekonomi Desa yang Berkeadilan (SDGs 6) dan Kemitraan Pembangunan Desa (SDGs 17)," ujarnya.

Dalam program ini NSLIC dan Kemendes PDTT mengajak Astra Internasional, Elevenia, BNI, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, UKM Mendunia, TaniHub, Tokopedia, SEA Group (Shopee) dan 12 investor lainnya untuk melihat langsung produk-produk yang dihasilkan oleh kurang lebih 500 petani dan pengrajin yang tergabung dalam 25 kelompok usaha di Buleleng, Klungkung, dan Tabanan.

Ketiga daerah tersebut telah menerima dukungan teknis dari NSLIC melalui skema program Responsive Innovation Fund (RIF) untuk pengembangan kualitas komoditas unggulan dan produk turunannya, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas SDM dari BUMDES dan BUMDESMA antara lain dalam hal penguatan organisasi (AD/ART, restrukturisasi Bumdesma, SOP, Business plan ), pemasaran online dan offline produk-produk Kawasan, dan pelatihan entrepreneurship, literasi keuangan dan management, serta jejaring pasar.

Melalui skema RIF, beberapa produk dari Nusa Penida telah lahir di masa pandemi seperti Coconut Chips yang menyediakan rasa caramel gula aren dan tepung mocaf (singkong) yang 100% halal dan sehat karena kadar indeks glikemiknya yang rendah, bebas gluten, dan kaya serat, kalsium dan fosfor.

Di Buleleng, pendampingan ditargetkan untuk perbaikan kualitas produk kerajinan bambu dan gula aren. Para pengrajin bambu kini mampu menciptakan produk-produk dengan desain baru yang sesuai dengan permintaan pasar.

Selain itu, ada juga produk lainnya yang menarik para investor. Dari Tabanan antara lain Beras Organik Pertiwi dan Kopi Leak, lalu ada garam ‘Uyah’ Kusamba dan sabun Kella asal Klungkung, juga produk-produk dari Buleleng seperti kopi robusta Kejapa, mangga Amplem Sari, minyak kayu putih Prani, anggur laut Bali, dan buah strawberry beku.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Cameron MacKay menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap upaya-upaya Pemerintah Indonesia untuk mendukung pengembangan usaha mikro dan kecil melalui program NSLIC yang didanai Kanada.

“Program ini telah memberikan hasil nyata untuk masyarakat lokal dan masyarakat lain di Indonesia, khususnya di Bali. Melalui pelatihan dan dukungan konsultasi teknis, petani lokal dan pemilik usaha dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas komoditas, diversifikasi produk, pengelolaan keuangan, keterampilan penjualan, dan bantuan untuk mendapatkan izin dan sertifikat yang diperlukan bahkan dalam menghadapi pandemi COVID-19”, jelasnya.

Director of Corporate Affairs TaniHub Group Astri Purnamasari, mengatakan pihaknya mendukung penuh kerja sama pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan unsur masyarakat dalam Program RIF di Bali ini.

Ia mengatakan, TaniHub Group melihat pentingnya pertanian dan perekonomian desa di Bali dibangun dengan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, agar petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjangkau pasar nasional dan global.

"TaniHub Group berharap dapat berperan aktif dalam penciptaan inovasi di kalangan perdesaan karena kami berangkat dari wirausaha sosial yang ingin membawa perubahan di ekosistem pertanian Indonesia,” ujarnya. (KS-5)

Komentar