Peringati Hari Dharma Samudera ke-60, Gubernur Khofifah Ajak Kembalikan Kejayaan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia





KANALSATU - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pihak untuk terus berupaya mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya kelautan dan kekayaan alam maritim yang melimpah.

Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti Upacara Tabur Bunga dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera ke-60 Tahun 2022 di Geladak KRI Wahidin Sudirohusodo WSH - 991 yang berlayar dari Dermaga Madura Koarmada II Surabaya, Sabtu (15/1/2021).

Khofifah mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia adalah maritim. Kondisi ini menjadikan kedaulatan maritim adalah sesuatu yang penting dicapai.

Sehingga laut menjadi faktor kunci tercapainya kejayaan bangsa menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

“Oleh karena itu kami terus mendukung TNI AL dalam pengabdian untuk menjaga kedaulatan laut nusantara. Terimakasih para prajurit maritim, selamat bertugas menjaga kedaulatan NKRI dari wilayah laut,” kata Khofifah.

Terkait upacara tabur bunga ini yang dipimpin langsung oleh KASAL Laksamana TNI Yudo Margono, Khofifah mengatakan bahwa acara ini menjadi momentum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gigih berjuang membela NKRI.

Menurutnya, upacara tabur bunga ini sekaligus menjadi bagian dari para penerus bangsa menghargai dan menghormati jasa dan keteladanan para pendahulu yang telah gugur sebagai kusuma bangsa.

“Sederet nama pahlawan dan pejuang bangsa yang gugur dalam medan pertempuran laut antara lain Komodor Yos Sudarso, John Lie, Kapten Wiratno (kapten KRI Matjan Tutul), Kapten Tjiptadi dan sebagainya ini menjadi gambaran bahwa banyak pahlawan dan pejuang kita yang berjuang di wilayah kemaritiman. Apalagi negara kita adalah negara maritim, dan perjuangan dan kegigihan para pahlawan dan pejuang yang bertempur di medan laut beserta prajurit maritim yang lain harus menjadi suri tauladan kita” jelasnya.

Khofifah juga mengajak kepada seluruh masyarakat Jatim terutama generasi muda untuk meneladani jejak perjuangan dan pengorbanan para pahlawan nasional. Serta terus membangun komitmen bahwa ada perjuangan, pengorbanan dan keteladanan dari para pahlawan nasional.

Sementara itu Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan bahwa acara tabur bunga ini untuk menghargai jasa para pahlawan terutama pahlawan laut yang telah gugur dalam berjuang menegakkan kedaulatan NKRI. Serta untuk menumbuhkan semangat para prajurit laut saat ini untuk terus menjaga kedaulatan NKRI.

“Termasuk para prajurit di KRI Nanggala 402 yang melakukan operasi latihan di Laut Bali telah gugur dan tentunya juga masuk di dalam acara ini. Kita hormati, kita hargai perjuangan mereka sekaligus pengingat jasa 53 prajurit yang telah gugur tersebut,” katanya.

Sebagai informasi, prosesi upacara tabur bunga ini dilakukan di atas KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 yang berlayar melintasi perairan di sekitar Selat Madura. Upacara ini dipimpin langsung oleh KASAL Laksamana TNI Yudo Margono.

Upacara ini diperingati setiap tahun oleh TNI AL untuk mengenang pertempuran yang terjadi di Laut Arafuru antara tentara Indonesia melawan Belanda untuk mempertahankan Irian Barat.

Hari Dharma Samudera juga dilakukan untuk memperingati peristiwa heroik Komodor Yos Sudarso yang gugur sebagai pahlawan. Sejarah singkatnya yakni pada tanggal 15 Januari 1962, 3 kapal cepat RI berjuang untuk merebut Irian Barat dari tangan penjajah Belanda.

Tiga kapal tersebut yakni Kapal RI Macan Tutul, Macan Kumbang, dan Harimau.

Ketiga kapal tersebut tiba-tiba diikuti oleh dua pesawat terbang Belanda, disusul dua kapal musuh berjenis Destroyer dan Freegat. Yang kemudian menembakkan peluru tajam dan suar ke ketiga kapal cepat RI.

Dalam keadaan darurat, Komodor Yos Sudarso yang berada di Kapal RI Macan Tutul mengambil alih pimpinan. Ia segera memerintahkan tembakan balasan dan manuver perlawanan untuk mengecoh musuh.

Hal ini membuat tembakan musuh terpusat di KRI Macan Tutul dan dua kapal lainnya dapat diselamatkan.

Namun karena kalah persenjataan, perlawanan menjadi tidak seimbang. Sehingga peristiwa tersebut mengakibatkan tenggelamnya kapal RI Macan Tutul dan gugurnya Komodor Yos Sudarso beserta sekitar 25 ABK kapal RI Macan Tutul.
(KS-10)
Komentar