Suami Diduga Disekap Bos Meratus, Istri Minta Keadilan ke Polda Jawa Timur

Lapor ke Polresta Tanjung Perak Tak Ditanggapi

Foto Ilustasi Penyekapan (istimewa)

KANALSATU - Karena dinilai tidak mendapat tanggapan atas laporan dugaan penyekapan terhadap sang suami, Mlati Muryani (38) meminta keadilan ke Polda Jawa Timur.

Kasus ini berawal dari tindakan terhadap suami Mlati, yakni Edi Setiawan, yang diduga telah disekap oleh SR, Direktur Utama Meratus Line, sejak tanggal 4 hingga 7 Februari 2022 lalu.

Edi Setiawan adalah karyawan Meratus Line, yang bertugas pada divisi bunker officer. Dugaan penyekapan itu dilakukan di kantor Meratus Line, Jalan Alun-alun Tanjung Priok nomor 27 Surabaya.

Atas peristiwa ini, Mlati Muryati melaporkan kejadian itu ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 7 Februari 2022.

Bukti laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/055/II/2022/SPKT/Polres Pelabuhan Tanjung Perak/Polda Jawa Timur, dan yerlapor adalah SR, Bos Meratus Line.

"Suami saya tidak diperkenankan pulang  oleh SR. Benerapa teman kerja sumi saya seperti satpam perusahaaan juga dilakukan hal yang sama, meski jam kantor telah usai. Bahkan dilarang meninggalkan kantor antara tanggal 4 hingga 7 Februari 2022 oleh SE," kata Mlati, Minggu (10/7/2022).

Dari informasi yang didapatkan, penyekapan terjadi karena pihak terlapor meminta korban (Edi Setiawan), mengakui perbuatan kecurangan jual beli bahan bakar minyak yang dilakukan oleh Meratus dari Bahana Line.

Oleh terlapor, Edi dan beberapa karyawan Meratus lainnya dianggap mengetahui dan bertanggungjawab atas permainan dan kecurangan tadi, yang dianggap merugikan Meratus. 

Ceritanya, Meratus membeli minyak dari Bahana sejak 2016. Dalam perjalanannya, beberapa karyawan bagian operasional bunker Bahana ternyata bermain mata dengan beberapa karyawan Meratus.

Edi Setiawan diduga sebagai otak dari penggelapan minyak ini. Keuntungan dari kecurangan ini dibagi sesama mereka dari kedua pihak.

Menurut informasi di Meratus, SR pun akhirnya melaporkan hal itu ke Polda Jawa Timur, yaitu tentang duguaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan Edi Setiawan cs tertanggal 9 Februari 2022, atau dua hari setelah penyekapan.

Atas dasar laporan itu Edi Setiawan dan beberapa orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka pada 27 Juni 2022.

"Sejak disekap itu sampai sekarang saya tidak mengetahui keberadaan suami saya. Apakah ditahan di kepolisian atau bagaimana," jelas Mlati.

Atas hal ini, Mlati merasa heran dan mempertanyakan mengapa laporan dia ke Polres Tanjung Perak jalan di tempat.

Pihak terlapor dalam hal ini SR, juga disebutkan masih bebas kemana-mana. Di sisi lain justru sang suami dijadikan tersangka atas laporan pihak Meratus Line. 

Berdasarkan atas fakta itu, maka Mlati akhirnya melaporkan sekaligus meminta keadilan ke Polda Jatim.

"Kami merasa tidak mendapat perlakuan yang adil dari pihak kepolisian, atas perbedaan perlakuan dari kasus yang menimpa suami saya," ujarnya. 

Mlati berharap di Polda Jatim masih ada keadilan, dan juga segera menanganikasus ini secara adil, hingga nasib suaminya bisa sehera diketahui dengan jelas. (ard)

Komentar