Pasar Modal Kondusif, OJK Ajak UMKM Melantai di Bursa



KANALSATU - Pasar modal Indonesia semakin menunjukkan perkembangan yang kondusif. Hal ini ditunjukkan melalui pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2022, kinerja IHSG beberapa kali menembus rekor baru dan yang tertinggi yakni di level 7.276,19 melampaui IHSG sebelum terjadinya pandemi.

Kapitalisasi pasar mencapai Rp 8.8 Triliun atau naik 7,73 % dibanding posisi akhir tahun 2021 yang hanya Rp 6,5 Triliun.

Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal juga bertumbuh secara positif. Terutama pada tahun 2021 dimana OJK telah menerbitkan 194 surat efektif bagi perusahaan yang akan melakukan penawaran umum dengan total nilai emisi mencapai Rp 363 Triliun dan 55 perusahaan diantaranya adalah emiten baru.

Sementara per 2022 ini, OJK telah menerbitkan efektif atas pernyataan pendaftaran sebanyak 75 emisi dengan total dana yang dihimpun Rp 88,28 Triliun dan 18 diantaranya merupakan emiten baru.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A- OJK, Luthfy Zain Fuady dalam acara ‘Ngobrol Santai Bareng Wartawan’, Senin (23/5/2022) mengutarakan bahwa pasar yang semakin kondusif tersebut tentu menjadi angin segar bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional.

“Kinerja positif ini tentu memberikan optimisme terhadap perkembangan pasar modal Indonesia di tahun 2022. Meskipun pertumbuhan ekonomi memang tidak mutlak akan selalu linear dengan pertumbuhan pasar. Namun, berkaca dari kondisi sepanjang tahun 2021 dan triwulan I tahun 2022, setidaknya dapat memberikan kinerja yang moncer di sepanjang tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu Direktur Penilaian Perusahaan PT BEI, I Gede Nyoman Yetna menambahkan bahwa pasar modal yang semakin kondusif merupakan momentum yang tepat bagi para UMKM untuk melantai di bursa.

Itu sebabnya dalam mendukung pengembangan usaha bagi para UMKM, OJK telah menerbitkan POJK Nomor 57/POJK.54/2021 tentang penawaran efek melalui layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi Securities Crowdfunding(SCF).

“Tujuan diterbitkannya POJK tentang SCF ini adalah untuk meningkatkan pendalaman pasar modal karena memberikan alternatif pilihan sumber pendanaan yang cepat, mudah, dan murah bagi UMKM yang belum bankable. Skema SCF ini mengoptimalkan ekosistem digital yang jauh dari kesan susah dan ribet sehingga crowdfunding dapat menjangkau pelaku UMKM untuk dipertemukan dengan para investor dengan sangat luas dan tak terbatas,” jelasnya.

Ditambahkannya pertumbuhan SCF sampai dengan tahun 2022 dinilai cukup pesat.

Hingga 13 Mei 2022, terdapat 10 penyelenggara atau platform yang telah berizin dari OJK. Jumlah ini meningkat 42,85 % dari tahun sebelumnya yang hanya tujuh platform.

Sementara untuk wilayah Jawa Timur, tercatat jumlah penerbit atau pelaku UMKM yang memanfaatkan SCF sebanyak 17 dengan jumlah investor sebanyak 6.495 dan total dana yang dihimpun Rp 25, 04 Miliar. (KS-6)
Komentar