Tembus Kawah Ijen hingga TPA Benowo Lewat VR, PLN Ajak Media Intip Masa Depan Energi Hijau

KANALSATU – Pernahkah Anda membayangkan bisa "terbang" ke kawah Ijen untuk mengecek sumur panas bumi, lalu dalam sekejap berpindah ke tumpukan sampah Benowo yang disulap menjadi listrik, tanpa harus beranjak dari kursi?
Pengalaman futuristik inilah yang disuguhkan oleh PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur dalam acara bertajuk "Virtual Journey to Green Power", Kamis (15/1/2026). Sekitar 30-an jurnalis diundang untuk "blusukan" secara virtual ke berbagai infrastruktur Energi Baru Terbarukan (EBT) unggulan di Jawa Timur menggunakan teknologi Virtual Reality (VR).
Melalui perangkat VR, para awak media diajak menjelajahi realitas digital yang sangat presisi. Perjalanan virtual ini dimulai dari PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) Benowo di Surabaya.
PLTSa tersebut memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Gas tersebut kemudian ditangkap, dibersihkan, dan dibakar untuk menghasilkan listrik.
Pembangkit ini menghasilkan listrik berkapasitas 1,68 MW netto. PLTSa Benowo sering dijadikan benchmark karena operasionalnya yang stabil sejak awal beroperasi, meskipun beberapa PLTSa di provinsi lain belum berjalan optimal.
"Tidak hanya di Surabaya, daerah-daerah lain sepertinya juga menghadapi masalah yang sama soal sampah. Dan sampah ini memiliki potensi besar untuk menjadi sumber energi," ujar General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Ahmad Mustaqir.
Perjalanan di PLTSa Benowo dimulai dari gerbang jembatan timbang yang menampilkan antrean truk pengangkut sampah. Selanjutnya, peserta dibawa menuju gasification power plant, control room gasification, hingga ke landfill power plant serta cubicle room.
Setelahnya, perjalanan berlanjut ke PLTP Blawan Ijen di Bondowoso. Tanpa perlu menempuh perjalanan darat berjam-jam, para jurnalis bisa melihat langsung sumur produksi panas bumi di Desa Kalianyar, mengamati bagaimana uap dari perut bumi dipisahkan melalui sistem separator, hingga akhirnya mengalir ke Gardu Induk. PLTP tersebut memiliki kapasitas pembangkit sebesar 34 Megawatt (MW).
Masih di ujung timur Pulau Jawa, peserta diajak melihat PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) Bayu yang memanfaatkan debit air sungai. PLTM Bayu yang terletak di tepian Sungai Binau, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi ini memiliki kapasitas 2 x 1,8 MW. Tur di PLTM Bayu dimulai dari pipa penstock, minihidro power plant 1, 2, dan 3, lalu menuju control room serta cubicle room.
"Di Pulau Jawa ini, tantangan ekosistem air memang cukup besar. Karena itu, kami juga mengembangkan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), khususnya di Pulau Madura," ujar Ahmad.
PLN kini tengah gencar membangun infrastruktur surya di Madura dan pulau-pulau terpencil di sekitarnya. Targetnya cukup ambisius, yakni pada tahun 2027, seluruh pulau berpenghuni di Madura akan menikmati listrik 24 jam penuh berbasis energi bersih.
Saat ini, kapasitas pembangkit EBT di Jawa Timur mencapai 293 Megawatt (MW) atau sekitar 3,5% dari total daya mampu yang menyentuh angka 10.000 MW.
Ahmad mengakui pengembangan EBT masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi teknologi dan biaya yang belum sepenuhnya kompetitif. Namun, dukungan regulasi dari pemerintah sudah sangat kuat.
"Ke depan, seiring turunnya biaya teknologi, EBT akan tumbuh secara alami," katanya.
Di sisi lain, Ahmad memaparkan bahwa PLN UID Jatim telah memanfaatkan teknologi digital dalam pengawasan sistem kelistrikan. Melalui control room pengatur distribusi, PLN dapat memantau seluruh gardu induk di Jawa Timur, termasuk pengoperasian jaringan tegangan menengah 20 kilovolt.
"Dengan sistem digital ini, kami bisa memonitor operasional dan performa peralatan secara real-time. Jika terjadi gangguan, tindakan perbaikan bisa dilakukan dengan cepat," pungkasnya.
Ia menegaskan, program pengembangan EBT menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menyediakan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
(KS-5)