Usaha Batik Tanjung Bumi Tetap Bersemi di Masa Pandemi

KANALSATU - Batik Tanjung Bumi dari Kabupaten Bangkalan tidak perlu diragukan lagi kecantikannya. Meskipun banyak usaha yang layu akibat pandemi, namun usaha batik Sumber Arafat di Tanjung Bumi tetap mekar dan bersemi.
Batik Sumber Arafat yang dimiliki Darmayanti sudah beroperasi sejak 2004. Dimulai dari hobby, kini ada 62 perajin batik yang mengandalkan pendapatannya dari sini.
Perajin batik di Sumber Arafat umumnya adalah ibu-ibu. Dengan demikian mereka bisa memiliki penghasilan tambahan namun tidak meninggalkan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Darmayanti mengungkapkan, meskipun pandemi melanda, usaha batiknya bisa tetap berjalan normal. Ia juga tidak mengurangi jumlah perajin yang bekerja padanya. ”Mungkin karena pembeli saya sebagian besar dari sekitar Bangkalan sendiri. Jadi ketika tidak ada orang bepergian dan berwisata pun, penjualan batik saya tetap berjalan normal,” ujar Darma-panggilan akrab Darmayanti.
Ketika kondisi pandemi mulai masuk transisi seperti sekarang ini, pesanan kain batik untuk seragam pun semakin deras mengalir. ”Tapi sayangnya saya sering tidak bisa memenuhi permintaan karena kekurangan kain,” ujarnya. Umumnya ia hanya menyediakan kain seragam sebanyak 20-30 potong. Padahal kerap kali permintaan mencapai 50 potong kain seragam.
Karena itu, pada tahun lalu ia pun mengajukan kredit di bank Pemerintah Daerah Jawa Timur sebesar Rp400 juta. Dengan KUR ini, ia bisa menambah permodalan untuk menambah stok kain seragam sehingga usahanya semakin berkembang."Sekarang saya berani stok kain batik untuk seragam sampai 50 potong karena modalnya sudah ada. Saya tidak sampai menolak konsumen kalau begini," sambung Darma sambil tersenyum.
Sebelumnya, Direktur Utama Bank Jatim, Busrul Iman mengatakan tahun ini Bank Jatim menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 5-6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu strategi yang dijalankan adalah mengoptimalkan potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang masih cukup besar bahkan banyak yang belum tersentuh. “Ini salah satu strategi kita untuk meningkatkan ekspansi kredit karena Jatim adalah gudangnya UMKM,” ujar Busrul.
Busrul menjelaskan di tengah kondisi pandemi, penyaluran kredit Bank Jatim mampu tumbuh dengan baik terutama kredit untuk sektor UMKM yang terealisasi Rp7,55 triliun atau tumbuh 11,07 persen (yoy), sedangkan kredit komersial mencapai Rp10,46 triliun atau tumbuh 1,28 persen (yoy) dan kredit sektor konsumsi mencapai Rp24,74 triliun naik 1,58 persen (yoy). “Dari kinerja tersebut, tampak bahwa pertumbuhan kredit UMKM sangat tinggi dibandingkan kredit komersial dan konsumsi. Ini menunjukkan bahwa sektor UMKM memiliki peran penting bagi perbankan dan bagi perekonomian Jatim itu sendiri,” ujarnya.
Terpisah, Ekonom ahli Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Yayat Cadarajat menjelaskan bahwa pembiayaan UMKM terrmasuk dalam kebijakan makroprudensial yang dijalankan Bank Indonesia dalam menjaga perekonomian Indonesia. ”Dengan memperluas inklusi keuangan, maka stabilitas ekonomi bisa tercapai,” tuturnya.
Bank Indonesia sendiri juga sudah merilis aturan tentang RPIM (Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial). Dalam aturan tersebut, bank sentral memberikan kemudahan bagi perbankan untuk menyalurkan portofolio kredit ke UMKM.
Sampai dengan Bulan April 2022, Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit ke sektor UMKM meningkat 16,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp Rp1,195,4 triliun. Adapun penyaluran kredit kepada UMKM meningkat dari bulan sebelumnya, yakni Maret 2022 yang tumbuh 15 persen yoy atau Rp1,171,8 triliun.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menuturkan, digitalisasi menjadi cara yang efektif dan efisien untuk membangkitkan UMKM, tidak hanya menjadi pemain-pemain nasional namun juga secara global. Oleh karena itulah, BI terus melakukan digitalisasi sistem pembayaran agar proses transaksi ekonomi UMKM dapat berjalan dengan cepat. (KS-5)