Dunia Pariwisata Kembali Pulih, Royal Regantris Hospitality Ikut Bangkitkan Perekonomian di Kawasan

COO Royal Regantris Hospitality, Rudy Hermawan (kanan) bersama Camat Tegalsari, Buyung Hidayat Rahman mengamati produk makanan ringan produksi UMKM Kecamatan Tegalsari.

 

 

KANALSATU – Wabah Covid-19 yang melanda negeri ini di awal 2020 menyebabkan banyak sektor usaha berguguran. Sejumlah pembatasan yang diberlakukan pemerintah menyebabkan mobilitas manusia berkurang drastis. Akibatnya, sektor pariwisata pun ikut menderita.

Namun kini, dengan gencarnya vaksinasi serta terkendalinya penularan virus, dunia pariwisata pun berangsur pulih. Hal ini tentu berpengaruh pula pada sektor perhotelan.

”Hotel-hotel kami okupansinya sempat nol. Bahkan dua hotel kami di Surabaya sempat tutup total selama tiga bulan di awal pandemi karena harus mengikuti peraturan pemerintah. Namun sekarang mulai berangsur kembali pulih,” ujar COO Royal Regantris Hospitality, Rudy Hermawan pekan lalu di Surabaya. Saat ini, okupansi rata-rata di hotel milik Royal Regantris Hospitality di Surabaya berada di kisaran 50-60 persen.

Dikatakan Rudy, Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia tidak hanya dikenal sebagai kota bisnis dan perdagangan saja. Lebih dari itu, Surabaya juga memiliki potensi di bidang pariwisata.

Sesuai dengan sebutannya sebagai kota pahlawan, ada banyak situs bersejarah yang bertebaran di Ibu Kota Jawa Timur ini. Termasuk juga di kawasan Tegalsari- lokasi dari Regantris Surabaya dan Royal Regantris Cendana.

Tempat-tempat ini tentu sangat layak untuk diperkenalkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kota ini. ”Karena itu kami berencana membuat map atau peta wisata sekaligus video tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar Tegalsari yang akan ditampilkan di lobby hotel maupun TV yang ada di kamar,” ujarnya.

Peta wisata tersebut nantinya tidak hanya menampilkan tempat wisata bersejarah tetapi juga lokasi kuliner andalan Kota Surabaya. Apalagi Kota Surabaya juga dikenal memiliki kekayaan kuliner yang menjadi favorit wisatawan.

Kawasan Tegalsari- lokasi dari Regantris Surabaya dan Royal Regantris Cendana- merupakan kawasan penting dalam pertempuran 10 November yang terkenal epic. Menurut penuturan Camat Tegalsari, Buyung Hidayat Rahman ada beberapa situs bersejarah yang terkait dengan perjuangan arek-arek Suroboyo di era perjuangan.

Ia mencontohkan adanya Radio Bekupon di kawasan Pregolan. Radio yang bentuknya disamarkan menjadi bekupon atau rumah burung dara ini berjasa mengobarkan semangat juang pemuda Surabaya.

Tidak jauh dari hotel juga ada markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang sekaligus merupakan kantor dari kantor Kolonel Sungkono. ”Di belakang Polsek Tegalsari itu juga ada bunker,” ujar Buyung.

Dengan kembali hidupnya pariwisata, Buyung juga berencana untuk menghidupkan kembali Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di wilayahnya. “Nanti masyarakat yang tergabung dalam Pokdarwis akan kami libatkan menjadi tour leader,” jelasnya.

Sinergi antara dunia usaha dengan lingkungan di sekitarnya ini tentunya akan bisa menjadi pengungkit kebangkitan ekonomi di kota tercinta ini.

 

Jadi Pioneer Tampilkan Produk UMKM

Dengan mulai bergairahnya kembali dunia pariwisata ikut membangkitkan asa semakin berkembangnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Apalagi selama ini UMKM juga masih sering mengalami kendala dalam hal pemasaran.

“Saya rasa saat pandemi ini hotel maupun UMKM juga merasakan hal yang sama. Karena itu kami ingin agar UMKM juga bisa tumbuh,” ujar Rudy. Sejak pandemi, hotel milik jaringan Royal Regantris Hospitality yang  berada di Bali juga sudah mulai menjual produk-produk UMKM. Begitu juga di Surabaya.

Saat ini, begitu tamu memasuki lobby hotel maka akan terlihat satu sudut khusus maka akan tampak satu sudut khusus yang didedikasikan untuk menampilkan produk-produk UMKM. Tidak hanya produk makanan ringan seperti keripik saja, namun kain batik hingga busana produksi UMKM sekitar hotel ikut ditampilkan.

Tidak hanya itu, bahkan untuk hidangan lontong kikil yang menjadi menu andalan Royal Regantris Cendana juga diambilkan dari penjual kikil yang cukup tersohor di Surabaya. ”Kami tidak masak sendiri. Jadi kalau memang habis, ya tidak bisa dipesan lagi,”katanya.

Ia mengakui, langkah promosi yang dijalankan pihak hotel tidak akan serta merta mengerek penjualan UMKM tersebut. ”Namun lebih penting adalah mengenalkan brand UMKM tersebut karena tamu yang datang ke hotel ini kan dari berbagai daerah ya. Dengan ditampilkannya produk-produk mereka di sini setidaknya tamu hotel tahu produk asli UMKM di sini,” tutur Rudy lagi.

Selain menampilkan produk UMKM, Royal Regantris Cendana juga melakukan perubahan pada penampilan kamar. Sesuai dengan spirit yang diusung, kamar-kamarnya saat ini menjadi lebih modern dan semakin nyaman untuk mengakomodir kebutuhan tamu yang menginap.   (KS-5)

 

Komentar