Siantar Top Alokasikan Dana 430 M untuk Belanja Kebutuhan 2023

Siap Hadapi Ancaman Krisis Global

SIANTAR TOP: Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin, (tengah) bersama jajaran direksi lainnya menunjukkan hasil produksi makanan ringan yang tetap leading di pasar lokal dan ekspor, usai acara Public Expose di Surabaya, Jumat (16/12/2022). (ardian)

KANALSATU - PT Siantar Top Tbk siap mengalokasikan dana sekitar Rp430 miliar untuk kebutuhan belanja perseroan selama 2023, meski bisnis makanan ringan akan menghadapi ancaman krisis global.

Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin, mengatakan tidak menampik kemungkinan bahwa ancaman krisis ekonomi global pada 2023 nanti akan berdampak pada pasar industri malanan ringan.

Namun menurut dia, dengan berbagai stretagi, baik untuk sektor produksi atau penjualan yang terus dilakukan, dirinya optimistis bisnis makanan ringan yang dikelolanya akan tetap leading.

"Salah satunya adalah, kami tetap akan alokasikan dana sekitar Rp340 miliar. Dana itu untuk memenuhi kebutuhan selama 2023 nanti, mulai untuk peningkatan inovasi prodak, juga peningkatan produksi, termasuk mesin produksi yang utilisasinya sudah 80% harus ditingkatkan, dan kebutuhan lainnya seperti pembagian deviden perseroan," tegasnya usai menggelar Public Expose di Surabaya, Jumat (16/12/2023).

Dengan upaya tersebut, lanjut Armin, optimis kinerja keuangan tumbuh stabil, juga tetap pioner di industri makanan ringan, seperti mie, kerupuk, biscuit dan produk lainya.

Menyinggung kinerja selama 2022, dia menjelaskan sampai September lalu telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp3,575 triliun, atau naik 17,41% dibanding posisi sama tahun sebelumnya yang hanya Rp3,045 triliun.

Perolehan tersebut diakui didukung okeh kontribusi penjualan ekspor 10%, dan network penjualan dalam negeri sebesar 99% dengan syatem spreeding coverage dan panetrasi pada seluruh distributor lokal.

Siantar Top juga disebutkan telah membukukan laba bersih pada posisi Setember 2022 sebesar Rp419 miliar, meski diakui angka tersebut menurun.

"Penurunan mencapai Rp14 miliar, atau setara dengan 3,24% jika dibandingkan posisi sama tahun lalu itu. Dan ini terjadi bukan karena negative market, namun lebih pas alibat kenaikan bahan baku, khususnya gandum yang melonjak harganya hingga 30%," jelas Armin.

Untuk tahun 2023, dia mengakui sangat optimistis mampu meningktkan perolehan hingga dua digit, dengan melakukan banyak strategi, diantaranya adalah inovasi produk dan memperluas jaringan di mesia sosial.

"Itu pun hasil sampai akhir 2022 ini optimis bisa meraup peningkatan 15% dari yang sudah kita raih sampai September lalu," tuturnya.

Armin pasa keswmpatan itu menjelaskan sampai saat ini China, Taiwan, Kores serta pasar Timur Tengah, didukung seluruh wilayah Indonesia, merupakan pasar potensial bagi industri makanan ringan yang diproduksinya. (ard)

Komentar