Harga Minyak Goreng Naik, Menteri Amran Ancam Tindak Mafia Distribusi

KANALSATU — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan memburu pelaku yang diduga memainkan distribusi minyak goreng hingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga di pasaran. Pemerintah bersama Satgas Pangan disebut telah beberapa kali melakukan penindakan terhadap produsen maupun distributor yang terbukti melakukan pelanggaran.
“Yang bermain-main tangkap. Kita tangkap, proses hukum, tersangka. Yang main-main minyak kurang, sudah. Bahkan ada yang didenda sampai Rp11 triliun,” kata Amran saat meninjau gudang Perum Bulog Jawa Timur di Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Amran menilai kenaikan harga minyak goreng di Indonesia merupakan kondisi yang tidak wajar mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan volume ekspor mencapai 32 juta ton per tahun.
“Kita produsen terbesar dunia. Kita ekspor 32 juta ton. Kok di negeri sendiri harganya naik? Enggak masuk akal,” ujarnya.
Menurut Amran, lonjakan harga di tengah stok yang melimpah mengindikasikan adanya praktik mafia distribusi yang mengambil keuntungan di rantai pasok. Karena itu, ia meminta pengawasan bersama dilakukan secara terbuka.
“Kalau harga naik sementara barang banyak, berarti ada apa di tengahnya? Nah, itu ada mafia. Kita harus berantas bersama,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran media, pengamat, dan masyarakat dalam mengawasi kebijakan pemerintah serta mengungkap praktik spekulasi di sektor pangan.
“Sekarang bukan zamannya tertutup. Era media sosial seperti ini, siapa yang dapat informasi langsung bisa dipotong. Terutama produsen yang melakukan spekulasi,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, memastikan stok minyak goreng yang dikuasai Bulog Jatim saat ini mencapai sekitar 457 ribu liter.
Menurutnya, jumlah tersebut akan bertambah dengan adanya tambahan pasokan sekitar 900 ribu liter selama Mei 2026 untuk memperkuat distribusi di tengah tingginya permintaan masyarakat.
“Stok minyak yang kami kuasai saat ini sekitar 457 ribu liter. Di Mei ini kami juga sudah mendapat rencana tambahan sekitar 900 ribu liter,” ujarnya.
Langgeng menjelaskan distribusi minyak goreng saat ini masih diprioritaskan ke pasar-pasar dalam program Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) guna menjaga stabilitas harga di masyarakat.
Ia menambahkan, tingginya harga minyak goreng di pasaran membuat permintaan minyak dari Bulog meningkat tajam sehingga stok sempat turun sebelum kembali bertambah.
“Kemarin stok kami tinggal sekitar 300 ribuan liter, sekarang sudah naik jadi 457 ribu liter. Karena harga minyak tinggi, masyarakat banyak mencari minyak dari Bulog,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET), Bulog menggandeng Satgas Pangan dan dinas perdagangan di daerah guna memperketat pengawasan distribusi hingga tingkat pengecer.
Langgeng juga menegaskan Bulog bukan satu-satunya pihak yang menguasai distribusi minyak goreng nasional. Menurutnya, distribusi terbesar masih dikuasai pihak swasta. “Bulog hanya menguasai sekitar 17 sampai 20 persen saja. Sekitar 65 persen distribusi dikuasai swasta dan 35 persen BUMN pangan,” katanya.
Meski begitu, Bulog Jatim memastikan akan terus menjaga distribusi agar kelangkaan minyak goreng di masyarakat dapat segera teratasi. (KS-5)