JAPFA for Kids Catat Perbaikan Gizi Anak, 62,5 Persen Siswa Malagizi Berhasil Naik Status Gizi

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H menjelaskan tentang gizi seimbang kepada media di Surabaya, Selasa (19/5/2026).

KANALSATU -  PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk melalui program JAPFA for Kids terus memperkuat upaya peningkatan gizi anak di Indonesia. Memasuki usia 18 tahun, program ini mencatat perbaikan status gizi ribuan siswa di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur.

Data JAPFA menunjukkan, pada 2025 sebanyak 646 dari 1.034 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau setara 62,5 persen. Sementara pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa atau 51,5 persen juga mengalami peningkatan status gizi menjadi lebih baik.

Program tersebut menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang digelar di Surabaya, Selasa (19/5/2026). Tahun ini, AKJJ mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Rachmat Indrajaya, mengatakan pemenuhan gizi anak menjadi bagian penting dalam membangun kualitas generasi penerus bangsa.

“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya masa depan Indonesia dimulai dari anak-anak yang mendapatkan asupan gizi baik dan tumbuh dalam lingkungan sehat,” ujar Rachmat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5-12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). 

Sementara data internal JAPFA pada tujuh lokasi pelaksanaan program tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi serupa.

Kondisi tersebut mendorong JAPFA memperkuat intervensi melalui program JAPFA for Kids yang hingga 2025 telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan program dijalankan melalui sejumlah strategi terintegrasi. Salah satunya pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi.

Selain itu, JAPFA juga melakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga pembiasaan pola hidup sehat lewat program Hari Sehat JAPFA.

“Program ini dirancang agar dampaknya dapat terukur secara konsisten, termasuk melalui monitoring berkala terhadap perkembangan status gizi siswa,” kata Artsanti.

Di Jawa Timur, implementasi JAPFA for Kids dilakukan di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, dengan melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menilai edukasi publik terkait gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media.

Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, dan pembiasaan hidup sehat sejak usia dini.

Sementara itu, penyelenggaraan AKJJ 2026 kembali digelar untuk ketiga kalinya sebagai bentuk kolaborasi JAPFA bersama media dalam memperluas edukasi publik mengenai isu gizi anak.

Dalam ajang tersebut, JAPFA menghadirkan sejumlah dewan juri dari berbagai latar belakang profesional, di antaranya jurnalis senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta Prof. Sandra Fikawati.  (KS-5)

Komentar