Tak Melulu Online, Omnichannel Jadi New Game Changer

KANALSATU – Di era digital seperti sekarang ini, penjualan melalui jalur online bukan menjadi satu-satunya cara untuk mengembangkan usaha di era saat ini. Omnichannel justru dianggap lebih tepat untuk dijalankan.
”Omnichannel ini bisa disebut new game changer. Omnichannel ini menggabungkan beberapa channel yaitu online maupun offline. Ini menunjukkan bahwa bisnis offline masih diminati pebisnis,” kata CEO JETE Indonesia, Jhonny Thio Doran saat menjadi pembicara dalam Senama Digital Business Insight : “Tantangan dan Potensi Bisnis Digital” yang diselenggarakan Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Jatim, Rabu (24/8/2022) di Surabaya.
Ia menunjukkan beberapa contoh beberapa raksasa online seperti JD.ID yang secara agresif membuka toko offline. Selain itu Blibli yang menggandeng Samsung juga terus mengembangkan toko offline.
Jhonny mengatakan, ada banyak perubahan yang terjadi di masyarakat di masa pandemi seperti mulai terbiasa bekerja dari rumah atau dari mana saja, virtual meeting serta pesan makanan dan belanja secara online.
”Selain itu, era digital juga ditandai kebutuhan akan kolaborasi,” ujarnya. Jhonny kemudian menyebut kolaborasi Tokopedia dan Gojek menjadi GoTo. Dengan bergabung, kedua unicorn ini justru menjadi semakin besar.
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah keberadaan big data. Pengolahan data yang tepat bisa menjadi pijakan dalam pengambilan keputusan. Termasuk dalam perdagangan atau dunia usaha umumnya.
”Big data sangat penting di era sekarang ini sehingga kita bisa mengetahui apa yang sedang menjadi pembicaraan di dunia maya. Tidak hanya soal viral, perlu diperhatikan juga tone-nya, apakah viralnya ini positif atau negatif,” tutur Praktisi Big data sekaligus Dosen FISIP UPN Jawa Timur, Catur Suratnoaji.
Yang tidak kalah penting adalah mengenal milenial. Hal ini karena milenial adalah penguasa dunia maya.
Secara virtual, CEO and Co Founder CIAS Indrawan Nugroho menyebut, pandemi mengakselerasi adopsi penggunaan teknologi digital hingga empat tahun lebih cepat. Indrawan menyebut semakin boomingnya Youtube, Amazon, Twitter, Uber yang menghidupkan ekspektasi masyarakat.
”Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama. Masyarakat kadung terdidik dengan aplikasi-aplikasi yang memudahkan hidup mereka. Karena itu semua bidang usaha harus mengenal customernya dan menyesuaikn diri dengan kebutuhan konsumennya,” tutur Indrawan. Menurutnya, siapa yang bisa mengenali kebutuhan dan menyelesaikan masalah konsumenlah yang akan memenangkan persaingan. (KS_5)