Penggunaan QRIS Tumbuh 197 Persen

KANALSATU - Pandemi turut mengubah pola transaksi konsumen di Indonesia. Salah satunya adalah semakin meningkatnya transaksi secara digital.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Jatim Budi Hanoto mengatakan transformasi digital menjadi satu dari tiga agenda G20 untuk meningkatkan inklusi keuangan, terutama bagi unit usaha seperti UMKM. Sejalan dengan hal itu, BI telah melakukan berbagai inisiatif sebagai implementasi ‘blue print’ sistem pembayaran BI di tahun 2025.
Bentuknya diantaranya aksi kolaboratif dan juga inklusif dan reposisi peran BI untuk menjaga keseimbangan dan inovasi digital yang semakin berkembang dengan berbagai potensi risiko.
“Potensi digitalisasi di Jatim dapat terlihat dari pertumbuhan merchant yang terus menunjukkan tren peningkatan,” ujarnya disela Festival Sinergi Sistem Pembayaran Inklusif melalui Orientasi Cinta Rupiah (Festival Simfoni Rupiah) bertajuk The Way We Pay di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya yang berlangsung pada 25-28 Agustus 2022.
Sampai saat ini terdapat 2,12 juta merchant yang sudah menggunakan QR Code Indonesian Standard (QRIS), di mana 97 persennya adalah merchant UMKM. Peningkatan penggunaan QRIS di Jatim mencapai 3,23 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp 530 miliar yang tumbuh secara tahunannya itu sekitar 197 persen.
Kegiatan ini bertujuan mendorong akselerasi implementasi Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) yang inklusif dan efisien untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional yang diwujudkan salah satunya melalui implementasi QRIS dan BI-FAST serta memperkuat pemahaman masyarakat terkait pengelolaan uang Rupiah melalui penyediaan uang Rupiah yang berkualitas dan layak edar bagi seluruh lapisan masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah dan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan langkah nyata Bank Indonesia dalam mensosialisasikan dan mengkomunikasikan kebijakan Sistem Pembayaran baik tunai dan non tunai khususnya pada tiga aspek utama.
Pertama, pada sisi pembayaran tunai, BI bersama Pemerintah baru saja mengeluarkan Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (Uang TE 2022) bertepatan dengan momentum HUT RI ke-77. Terdapat tiga inovasi penguatan Uang TE 2022 yaitu desain warna yang lebih tajam, unsur pengaman yang lebih andal, dan ketahanan bahan uang yang lebih baik.
Kedua, pada sisi pembayaran non tunai, BI akan terus menggalakan digitalisasi sistem pembayaran khususnya mendorong penggunaan QRIS dan BI-FAST.
”Ketiga, dalam mewujudkan bank sentral digital kedepan, Bank Indonesia saat ini sedang mengkaji penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau rupiah digital dan akan dipublikasikan white paper atau consultative paper kepada masyarakat terkait konsep uang rupiah digital,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung pada sesi leader’s insight pembukaan Festival Simfoni Rupiah, Kamis (25/8/2022).
Pada acara pembukaan tersebut juga dilakukan seremonial launching 36 Pasar dan 15 Pusat Perbelanjaan Sehat, Inovatif, Aman, Pakai (SIAP) QRIS, salah satunya di Tunjungan Plaza sebagai pusat perbelanjaan terbesar kedua di Indonesia.
Juda Agung menyampaikan bahwa BI saat ini terus menggalakkan QRIS dan BI-FAST sebagai infrastruktur Sistem Pembayaran ritel nasional yang dapat memfasilitasi pembayaran ritel secara real-time, aman, efisien setiap waktu.
“Seperti di UMKM itu (QRIS) sudah mencapai 97 persen. Selanjutnya di mall. Karena masih jarang orang gunakan QRIS di mall sehingga BI sudah menaikkan batas limit QRIS menjadi 10 juta. Kedepan ditambah feature seperti dapat digunakan ke negara lain atau cross border yang didahului dengan Thailand dan Singapura. Termasuk feature transfer tarik dan setor akan dilaunching pada akhir tahun,” ujarnya.
Menurutnya, TTS (transfer tarik dan setor) akan memperluas cakupan digitalisasi hingga pasar tradisional, UMKM dan mall, termasuk untuk layanan pemda, kepolisian dan parkir.
Sementara untuk BI Fast yang sudah dilaunching sejak 2021 sudah mencatatkan 200 juta kali transaksi. ”Dengan BI Fast, 3 detik sudah sampai dan biaya n?ya hanya Rp 2.500. Dulu biaya online Rp6.500 atau hemat Rp4.000 sehingga efisiensi transaksi ekonomi bisa mencapai sekitar Rp800 Miliar. BI saat ini sedang mengkaji uang rupiah digital (central bank digital currency) atau rupiah digital. Pada akhir atau awal tahun depan konsepnya akan kita publikasi,” pungkasnya.
? Festival Simfoni Rupiah menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan menarik lainnya meliputi sarasehan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), rangkaian webinar mengenai perlindungan konsumen dan program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, showcase perbankan dan booth edukatif sebagai pusat informasi terkait perlindungan konsumen, QRIS, dan BI-FAST, perlombaan, pojok kopi yang menghadirkan produk kopi UMKM, hiburan, serta penyediaan penukaran Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (Uang TE 2022).
Berbagai program tersebut merupakan upaya dalam memperkuat awareness untuk mendukung terciptanya ekosistem sistem pembayaran yang Cepat, Murah, Mudah, Aman, dan Handal (CEMUMUAH) bagi masyarakat dengan menjunjung semangat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. (KS-5)