Usulkan Petani Dapat Akses KUR Alsintan dengan Grace Period Empat Tahun
Tingkatkan Produktivitas dan Produk Kualitas Premium

KANALSATU - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan optimismenya bahwa Jatim siap menghadapi tantangan krisis pangan dunia. Tidak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa Provinsi Jawa Timur bisa diandalkan sebagai Lumbung Pangan Nasional.
Bukan tanpa alasan, Gubernur Khofifah menyebut bahwa ketahanan pangan Jatim hingga saat ini dalam posisi sangat baik, bahkan ketersediaan bahan pangan Jatim dalam kondisi surplus dan menjadi tulang punggung nasional. Utamanya untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan data BPS tahun 2020 dan 2021 Jatim menjadi provinsi penghasil padi tertinggi nasional. Produksi padi Jatim di tahun 2021 mencapai 9,94 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
"Mudah-mudahan di tahun 2022 ini, produksi padi di Jatim masih tertinggi di Indonesia. Terimakasih kami sampaikan pada petani dan peternak atas kerja kerasnya maka hasil produksi pangan kita sangat signifikan," ungkap Gubernur Khofifah dalam puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-42 Tahun 2022 Provinsi Jawa Timur, di Jatim Expo, Surabaya, Rabu (19/10/2022) sore.
Gubernur Khofifah menambahkan, produksi daging sapi di Jawa Timur juga menjadi yang tertinggi se Indonesia. Dengan populasi sapi mencapai 5,1 juta ekor. Termasuk produksi Ikan tuna di Jatim juga tercatat sebagai tertinggi nasional.
“Betapa penting menjaga ketahanan pangan. Bahkan menurut saya kita sudah waktunya masuk ke kedaulatan pangan. Maka menjaga produktivitas pangan harus maksimal kita upayakan,” tegasnya.
Untuk itu, sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia ke-42 tahun ini yaitu ‘Leave No One Behind, Better Production, Better Nutrition, Better Environment, and Better Life' Gubernur Khofifah mengajak memaknai faktor Better Production.
Menurutnya, untuk mencapai better production diperlukan dorongan di sektor pertanian untuk semakin meningkatkan performa dan produktivitasnya di wilayahnya masing-masing. Sedangkan di Jatim, kondisinya adalah hasil panen petani Jatim masih bisa dimaksimalkan bahkan dengan kualitas padi premium lagi jika terpenuhinya Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN) canggih.
Untuk itu, Gubernur Khofifah memberikan solusi khusus dengan pemberian Grace Period dalam Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikhususkan untuk pengadaan alsintan petani.
"Kalau ada sektor yang bisa mendapat KUR dengan Grace Period selama empat tahun, maka sektor pangan terutama padi juga diharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang sama," tuturnya.
Lebih detail Khofifah menjelaskan, bahwa KUR yang dimaksud kali ini adalah untuk keperluan pemenuhan ALSINTAN yang harganya cukup mahal bagi gapoktan secara umum.
Di antaranya yaitu Harvester, Dryer, Rice Milling Unit (RMU). Maka jika KUR-nya mendapat Grace Period, akan sangat meringankan para petani dalam menyelesaikan cicilannya.
"Para petani ini akan memiliki produksi yang lebih signifikan jika ada Harvester, Dryer, dan RMU, sehingga produknya bisa berkualitas premium. Apalagi, memang padi di Jatim pada dasarnya kualitasnya premium, hanya karena keterbatasan alat seperti dryer sehingga pengeringan kurang maksimal sehingga kandungan airnya sering masih cukup tinggi sehingga saat diolah pecahnya banyak maka kualitasnya jadi medium," urainya.
Lebih lanjut dijelaskan Khofifah, dengan adanya Harvester pun bisa mengurangi lost produksi hingga 9- 11 persen. Dengan demikian, jika jatim produksinya hampir 10 juta ton, dengan memiliki harvester maka produksi padi Jatim bisa mencapai 11 juta ton.
Begitu juga dengan implementasi Better Nutrition. Dalam hal ini Gubernur Khofifah mengajak seluruh Kepala Daerah bersama segenap Tim Penggerak PKK Kab/Kota untuk menjadikan referensi dalam penurunan kasus Stunting di Jawa Timur.
"Kita bisa menjadi bapak/ibu asuh bagi satu anak yang terindikasi stunting. Ini jadi salah satu langkah bersama untuk menurunkan angka stunting sesuai target Presiden Jokowi, di bawah14% pada tahun 2024," ucap Khofifah.
Sementara untuk Better Environment, Gubernur Khofifah secara khusus mengingatkan para Kepala Daerah untuk menjaga keseimbangan dalam minat pembangunan industri dan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD). Serta memastikan, untik LSD tidak digunakan untuk industrialisasi.
Pastikan area industri dari lahan tidak produktif. Tujuannya adalah untuk menjaga produktivitas dari luasan lahan yang telah ada.
Dengan terpenuhinya empat implementasi tersebut, Gubernur Khofifah meyakini bahwa bukan tidak mungkin Indonesia, utamanya Jawa Timur bisa menuju Kedaulatan Pangan, bukan sekedar Ketahanan Pangan.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo mengaku takjub atas keberhasilan Jawa Timur dalam surplus beras pada tahun 2021 lalu. Secara khusus, dirinya menyampaikan apresiasi penuh atas kerja keras seluruh insan pertanian Jatim yang menjadikan Jatim sebagai pemasok pangan bagi 16 daerah lainnya.
"Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya karena Jawa Timur tidak hanya surplus beras tetapi juga menjadi pemasok pangan bagi 16 daerah lain," terangnya.
Demi menjaga ekosistem pangan Jatim yang sudah baik, pihaknya berkomitmen untuk menjaga keseimbangan di hulu dan hilir.
"Petani dan peternak harus untung, tetapi di hilirnya juga harus seimbang antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi," tegasnya. (KS-9)