Pasokan Pupuk Lancar, Produktivitas Meningkat, Kesejahteraan Petani Ikut Terangkat

KANALSATU - Pemerintah terus mendorong terwujudnya swasembada pangan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong produktivitas produk pertanian agar cita-cita luhur tersebut dapat tercapai.
Karena kekayaan alamnya, Indonesia memiliki beragam sebutan. Mulai dari negara maritim, hingga negara agraris. Namun sayangnya citra tersebut sedikit demi sedikit memudar. Kian banyak bahan pangan yang harus diimpor karena kurangnya produksi pertanian di dalam negeri jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi penduduk.
Misalnya saja untuk gula. Mengutip data dari kemenperin.go.id, pada tahun 2021, produksi gula nasional sebesar 2,35 juta ton yang terdiri dari produksi pabrik gula BUMN sebesar 1,06 juta ton dan pabrik gula swasta sebesar 1,29 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula tahun 2022 mencapai sekitar 6,48 juta ton, terdiri dari 3,21 juta ton GKP dan 3,27 juta ton GKR.
Saat ini masih terdapat gap kebutuhan gula sekitar 850 ribu ton untuk gula konsumsi dan 3,27 juta ton untuk gula rafinasi. Lonjakan kebutuhan tersebut disebabkan oleh peningkatan konsumsi rumah tangga seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pendapatan masyarakat dan tumbuhnya industri makanan dan minuman yang diproyeksi meningkat 5-7 persen per tahunnya.
Salah satu petani yang memiliki lahan di Kabupaten Mojokerto, H. Mubin mengaku sudah merasakan pahit dan manisnya menjalankan budidaya tebu. ”Mulai dari zaman orang tua saya sampai sekarang saya punya anak dan tetap saya minta meneruskan untuk nggarap tebu. Meskipun hasilnya gak selalu baik, tapi saya yakin, tebu ini bisa menghasilkan. Apalagi sekarang pemerintah semakin perhatian. Kebutuhan petani seperti pupuk juga semakin dimudahkan,” kata Mubin kepada kanalsatu.com.
Salah satu kemudahan yang dimaksud adalah melalui Program Makmur yang diinisiasi PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai upaya meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Semenjak adanya program ini, kebutuhan petani akan pupuk menjadi lebih terjamin.
”Kita sendiri sudah merasakan untuk penebusan, pengiriman dan realisasinya jauh lebih baik daripada sebelum ada Program Makmur,” ujar Mubin. Dengan demikian ia dan petani yang menjadi anggota kelompok tani di desanya bisa melakukan pemupukan dengan tepat waktu, tepat jumlah dan tepat guna.
Sebelumnya, meskipun sanggup membeli, petani sulit untuk mendapatkan pupuk non subsidi yang dibutuhkan. Akhirnya pemupukan telat dilakukan dan berimbas pada pertumbuhan batang tanaman itu sendiri.
Sekarang, setelah Program Makmur dijalankan. Petani tidak perlu khawatir lagi. Produktivitas pun meningkat. ”Kalau dirata-rata ada peningkatan produktivitas 10-20 persen per hektare lahan jika dibandingkan sebelum dan sesudah ada Program Makmur. Jadi memang pemupukan tepat waktu dan tepat guna serta efisiensi itu sangat berpengaruh bagi produktivitas kami di lahan,” jelasnya.
Karena peningkatan produktivitas ini pula, pendapatan petani juga ikut bertambah.
Hanya saja, Mubin memberikan sedikit catatan mengenai pola pengiriman pupuk yang menggunakan truk berukuran besar cukup menyulitkan bagi petani yang tinggal di pedesaan dan jalannya tidak cukup lebar. ”Akhirnya kami harus memindahkan ke pick up. Nah, kuli yang memindahkan dari tronton ke pick up ini kan kadang carinya juga tidak mudah dan juga menambah biaya lagi,” ujarnya.
Mengenai harga, menurutnya memang fluktuatif. Misalnya saja untuk ZA pada Bulan September lalu ia menebus di harga Rp610.000 per kuintal, kemudian Urea Rp480.000 per zak atau 50Kg dan Phonska Rp300.000 per 25Kg.
Terus Tambah Luasan Areal
PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan realisasi program Makmur sudah terlaksana di atas lahan seluas 140.108 hektar (ha) per Mei 2022 dari target seluas 250.000 hektar.
Sejak diluncurkan, Program Makmur telah terlaksana di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara.
Senior Project Manager (SPM) Program Makmur Pupuk Indonesia, Supriyoto mengatakan dari luas lahan 140.108 ha yang sudah melaksanakan Program Makmur, terdapat beberapa komoditas yang telah ditanam. Mulai dari padi seluas 26.867 ha, jagung seluas 17.298 ha, sawit seluas 58.705 ha, tebu seluas 33.044 ha, hortikultura seluas 1.918 ha, dan perkebunan rakyat seluas 2.277 ha.
Menurut Supriyoto, program Makmur juga berhasil meningkatkan produktivitas komoditas padi rata-rata 32,73 persen menjadi sekitar 7,7 ton per ha dari yang sebelumnya 5,8 ton ha. Sementara itu, untuk komoditas jagung meningkat rata-rata 37,47 persen menjadi 7,7 ton per ha dari yang sebelumnya 5,6 ton per ha.
“Petani yang mengikuti program Makmur juga tercatat pendapatan atau keuntungannya meningkat, sebagai contoh petani padi meningkat hingga 51,11 persen penghasilannya, dan petani jagung meningkat hingga 54,16 persen,” ujarnya.
Hingga Mei 2022, Program Makmur telah diikuti 66.474 orang petani dari target 250.000 orang. Adapun 66.474 orang petani ini tersebar ke beberapa komoditas seperti padi sebanyak 25.043 orang, jagung sebanyak 13.751 orang, sawit sebanyak 15.251 orang, tebu sebanyak 7.556 orang, hortikultura sebanyak 3.152 orang, dan perkebunan rakyat sebanyak 1.721 orang. (KS-5)