Jelang Pemilu, Pengamat : 2023 Momentum Tepat Beli Properti

Fibriyani Elastria (Chief Marketing Officer Pinhome), Dayu Dara Permata (CEO Pinhome), Ali Tranghanda (Pakar Properti dan Executive Director Indonesia Property Watch), dalam acara Media Gathering PInhome di Jakarta, Rabu (15/2/2023).

 

KANALSATU – Industri properti dianggap tidak akan kehilangan daya beli. Bahkan tahun 2023 ini dianggap menjadi momen yang tepat untuk membeli properti.

Executive Director, Indonesia Property Watch Ali Tranghanda masih kuatnya daya beli properti tahun ini dilandasi kekuatan pasar lokal dan ekonomi fundamental Indonesia.

”Jika mampu, lebih baik beli properti di tahun 2023 daripada menunggu di tahun-tahun depan. Harga properti akan makin bersahabat di tahun politik ini. Setelah pemilu, bisa jadi harga properti akan naik seiring kenaikan permintaan,” kata Ali saat pers conference Pinhome, Rabu (15/2/2023).

Bagi mereka yang berminat membeli properti, Ali memberikan beberapa tips. Yang pertama, manfaatkan bunga KPR yang melandai atau di bawah bunga sebelum pandemi.

Kemudian, jika menggunakan pihak ketiga untuk membeli properti, seperti agen atau platform digital, pastikan sudah terpercaya dan memberikan transparansi untuk proses dan biaya yang harus dikeluarkan.

 “Solusi hulu ke hilir berbasis teknologi seperti Pinhome menjawab berbagai pertanyaan properti seeker dan pemain industry. Fitur seperti PinValue, yang bisa memberikan perkiraan harga properti secara transparan tidak hanya membantu pembeli properti, tapi juga pemain industri dan developer,” tuturnya.

Di ulang tahunnya yang ketiga, platform property Pinhome membagikan data tentang hasil temuannya mengenai kepemilikan rumah pertama dan prediksi tren di 2023. Temuan ini didapat dari riset konsumen dan juga data internal platform Pinhome, dari sisi brokerage, pendanaan dan juga perawatan properti.

Pinhome sendiri telah menjadi tiga besar property tech di Indonesia dengan layanan di lebih dari 75 persen kota-kota di Indonesia. Aplikasi Pinhome juga telah diunduh lebih dari 600 ribu kali.

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata mengatakan, Pinhome tidak hanya menyediakan lebih dari 700 ribu properti yang berbeda, tapi juga pendanaan dan perawatan properti.

”Solusi hulu ke hilir ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat Indonesia memiliki rumah untuk pertama kalinya,” ujarnya. Terbukti, solusi Pinhome mempercepat proses pembelian rumah pertama hingga tiga kali lebih cepat.

Proses yang biasa memakan waktu rata-rata enam bulan, di Pinhome hanya selesai bisa dalam dua bulan. ”Dalam tiga tahun ini Pinhome juga berhasil menjadi tiga besar situs properti di Indonesia yang paling banyak dikunjungi,” kata Dayu.  

Dari analisa data penggunaan platform Pinhome dan riset ke konsumen, terdapat beberapa temuan menarik seputar kepemilikan rumah pertama. ”Pertama, properti yang paling digemari sebagai rumah pertama biasanya berbentuk rumah baru dengan harga di bawah Rp 600 juta,” tuturnya.

Lokasi paling banyak dicari bergeser keluar Jakarta, yaitu Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok dan Bandung. Kemudian, kebutuhan kredit semakin berkembang, di mana minat terhadap KPR takeover meningkat karena potensi penghematan hingga 25 persen dari total cicilan.

Fakta selanjutnya, pembagian THR menjadi pemicu transaksi, di mana transaksi pembelian properti meningkat hingga dua kali lipat setelah THR diterima. Dan yang terakhir, pasca pandemi kebutuhan alih daya (outsource) perawatan rumah terus meningkat, terutama jasa membersihkan rumah yang naik 2,5x lipat di tahun 2022. 

Menurut data internal, empat dari lima pengguna Pinhome adalah pembeli properti pertama dan 93 persen pengguna mencari rumah untuk ditinggali.

Saat ini, Pinhome telah bekerjasama dengan lebih dari 20 ribu agen properti, 20 institusi jasa keuangan untuk pendanaan properti dan juga lebih dari 8 ribu penyedia layanan perawatan Pinhome Service. Pinhome juga bekerjasama dengan Sarana Multigriya Finansial untuk menyediakan layanan rent-to-own sebagai alternatif kredit bagi mereka yang dengan kesulitan akses ke bank. (KS-5)

Komentar