BEI Bidik 2 Juta Investor Baru di 2026, Pasar Modal Dipacu Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KANALSATU - Bursa Efek Indonesia (BEI) menatap 2026 dengan target agresif. Otoritas bursa membidik penambahan 2 juta investor baru, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp15 triliun, serta 555 pencatatan efek baru dari berbagai instrumen pasar modal.
Target tersebut disiapkan untuk memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk mencapai target tersebut, BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO)—PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)—dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus memperluas produk, layanan, dan inisiatif strategis.
Penguatan infrastruktur perdagangan, pengembangan instrumen investasi, serta peningkatan literasi dan inklusi pasar modal menjadi fokus utama sepanjang 2026.
Dukungan pemangku kepentingan dinilai krusial, terutama dalam menjaga kepercayaan investor dan memastikan pasar modal tetap kompetitif di tengah dinamika global.
"Sebagai pijakan menuju target 2026, kinerja pasar modal sepanjang 2025 dinilai solid," kata Direktur Utama BEI Iman Rachman menyebut 2025. Bursa Efek Indonesia mencatatkan berbagai capaian positif meski berada di bawah tekanan ekonomi global dan domestik.
Total investor pasar modal pada 2025 melonjak 36,67% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 20,3 juta investor. Jumlah investor saham meningkat lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor, dengan rata-rata investor aktif bertransaksi mencapai 901 ribu per bulan.
Dari sisi kinerja pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 22,10% year-to-date ke level 8.644,26. Rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp18,06 triliun, disertai 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa dan kapitalisasi pasar yang menembus Rp16.000 triliun.
Di sisi penawaran efek, BEI mencatat 26 IPO saham sepanjang 2025 dengan total dana terhimpun Rp18,1 triliun, serta ratusan pencatatan instrumen lain seperti obligasi, ETF, EBA, dan waran terstruktur. Capaian tersebut menempatkan BEI di peringkat ke-11 dunia dari sisi jumlah IPO.
Kinerja positif 2025 tersebut menjadi modal penting bagi BEI untuk mengejar target ambisius pada 2026, sekaligus memperkuat peran pasar modal sebagai pilar utama pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
(KS-5)