Ekonomi 2026: Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Ini Sektor Bisnis yang Dinilai Paling Tahan Banting

KANALSATU - Memasuki 2026, dunia usaha kembali dihadapkan pada realitas ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian masih menjadi kata kunci.
Mulai dari dampak lanjutan pandemi Covid-19, fragmentasi ekonomi dan teknologi global, hingga fluktuasi pasar keuangan dunia.
Namun di tengah tekanan tersebut, peluang bisnis tetap terbuka—khususnya bagi pelaku usaha yang adaptif, berani membaca arah perubahan, dan siap berinvestasi jangka panjang.
Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Prakoso, menilai fondasi ekonomi global hingga nasional saat ini masih sangat dipengaruhi pandemi Covid-19 yang dampaknya bersifat struktural dan jangka panjang. Menurutnya, krisis tersebut belum sepenuhnya berakhir dan masih menyisakan efek berkepanjangan terhadap dunia usaha.
“Covid bukan krisis sesaat. Banyak kajian menyebut dampaknya bisa terasa hingga 25 tahun ke depan, bahkan sampai 2044. Saat ini kita masih berada dalam fase pemulihan,” ujar Medy yang juga sekaligus Direktur Utama CV Surya Bhakti Mandiri ini.
Kondisi tersebut tercermin dari dinamika bisnis nasional. Sejumlah perusahaan besar kolaps akibat tekanan ekonomi sepanjang 2024–2025, namun pada saat bersamaan muncul gelombang pelaku usaha baru dengan model bisnis yang lebih adaptif. Tahun 2026 pun diproyeksikan masih menjadi periode konsolidasi sekaligus pemulihan lanjutan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai investasi sepanjang 2025 tetap mencatatkan pertumbuhan signifikan. Meski demikian, investasi tersebut belum sepenuhnya berdampak langsung terhadap kinerja ekonomi riil. Banyak pelaku usaha masih menunggu hasil dari penanaman modal yang dilakukan beberapa tahun terakhir.
Di tingkat global, peta ekonomi dan teknologi dunia kian terfragmentasi. Tiongkok dan negara-negara yang lebih dahulu mengalami fragmentasi mulai memperluas pengaruh ke negara berkembang. Setelah Asia, Afrika diperkirakan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang mulai dilirik investor global.
Sementara itu, Amerika Serikat diproyeksikan masih menghadapi gejolak ekonomi berkepanjangan. Dampak kebijakan era Donald Trump dinilai belum sepenuhnya hilang, menciptakan volatilitas tinggi. Eropa berada pada posisi berbeda, meski secara strategis masih berada dalam satu poros kepentingan global.
“Semua ini akan memengaruhi pergerakan makro ekonomi dunia, mulai dari nilai tukar dolar AS, harga emas, pasar saham, hingga aset kripto,” kata Medy.
Di tengah tekanan eksternal, Indonesia diperkirakan akan lebih fokus memperkuat ekonomi domestik. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan pembangunan fisik dan investasi, termasuk melalui skema Danantara, setidaknya hingga 2027.
Langkah tersebut bertujuan membuka ruang peningkatan daya beli masyarakat sekaligus mengerek belanja negara agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Dari sisi sektoral, Medy menilai sektor energi, teknologi informasi (IT), serta hasil bumi penopang industri teknologi dan elektronika akan menjadi motor pertumbuhan baru. Kebutuhan digitalisasi, modernisasi sistem, dan penguatan jaringan nasional dipastikan terus meningkat.
Dampak lanjutan dari tren tersebut adalah munculnya industri pendukung baru, khususnya di Jawa Timur. Posisi Jawa Timur sebagai pintu gerbang Indonesia Timur dinilai menjadi keunggulan strategis yang mendorong pertumbuhan perdagangan regional dan internasional.
“Ini akan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas perdagangan Jawa Timur,” ujarnya.
Di sektor perdagangan luar negeri, ekspor diproyeksikan masih tumbuh seiring dorongan pemerintah dan meningkatnya investasi Indonesia di luar negeri. Namun, kuatnya basis industri Jawa Timur juga membuat kebutuhan impor tetap tinggi, terutama untuk bahan baku dan penunjang produksi.
Secara proporsional, impor diperkirakan tetap berada di kisaran 10 persen, terutama untuk menjaga rantai pasok industri dan memenuhi kebutuhan domestik. Medy menegaskan, pelaku usaha yang ingin bertahan dalam jangka panjang perlu menanam investasi secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar keuntungan spekulatif.
Bagi pelaku usaha yang cenderung konservatif, sektor jasa dan usaha riil skala kecil masih dinilai relatif aman. Namun, pemahaman terhadap regulasi serta dinamika mikro dan makro ekonomi tetap menjadi kunci utama.
Lebih jauh, Medy menekankan bahwa tantangan terbesar ke depan bukan hanya soal investasi, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan. Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, tetapi juga berpotensi menekan serapan tenaga kerja.
“Karena itu, peningkatan kualitas SDM dan kewirausahaan menjadi krusial agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal dan standar UMP/UMR,” ujarnya.
Meski awal tahun kerap diwarnai kekhawatiran, Medy tetap optimistis. Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis selalu melahirkan pelaku usaha tangguh yang mampu bertahan dan tumbuh.
“Tahun 2026 bukan tentang menghindari perubahan, tetapi tentang kemampuan beradaptasi dan menangkap peluang di tengah ketidakpastian,” pungkasnya.
(KS-5)