Targetkan Produksi Tebu Mencapai 62 Juta Ton di 2030, Ini Strategi SGN

Direktur Utama PT SGN Aris Toharisman
KANALSATU - PT Sinergi Gula Nasional (SGN) menargetkan produksi tebu digiling mencapai tebu 62 juta ton pada 2030 dari saat ini yang masih dikisaran 13,7 juta ton. Target tersebut bertujuan mendukung program swasembada pangan yang ditetapkan pemerintah.
Direktur Utama PT SGN Aris Toharisman memaparkan, pada 2030 mendatang, sasaran produktivitas tebu yang ingin dicapai sebesar 92 ton per hektar dengan rendemen 8,5 persen. Dengan demikian diprediksi produksi gulanya akan mencapai 2,2 -2,4 juta ton.
"Ditambah dengan produksi gula swasta sebesar 2,5 juta ton, maka akan tercapai produksi gula sebesar 4,9 juta ton. Itu sudah memenuhi proyeksi kebutuhan gula kita saat itu," kata Aris kepada media di Surabaya, awal pekan lalu.
Sementara untuk tahun 2023 ditargetkan jumlah tebu yang digiling sebanyak 13,7 juta ton dan produksi gula mencapai 1 juta ton.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari realisasi tahun 2022 yaitu 850 ribu ton gula dan 13,4 juta ton tebu digiling.
Untuk mencapai target tersebut, PT SGN sebagai entitas baru gabungan dari tujuh PTPN berbasis gula di seluruh Indonesia sudah menetapkan beberapa strategi.
Yang pertama adalah perluasan lahan. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh SGN sendiri. Saat ini SGN melakukan Kolaborasi dengan Perhutani melalui program agroforestry.
"Target pemerintah, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo sendiri, di tahun 2030, ada penambahan lahan tebu seluas 700 ribu hektar se Indonesia. Dari 700 ribu hektar tersebut, 70 persennya diberikan ke SGN, atau sekitar 490 ribu hektar," terang Aris.
Hingga saat ini, sudah ada penambahan lahan tebu menjadi 176 ribu hektar, naik dibanding tahun sebelumnya yang masih seluas 160 ribu hektar. Tambahan area lahan tebu tersebut diperoleh dari beberapa sumber. Di antaranya konversi lahan HGU PTPN, dari non tebu menjadi tebu, seperti lahan karet dan kakao.
Untuk penambahan lahan dari HGU, total target SGN mencapai 100 ribu hektar dari saat ini sebesar 57 ribu hektar.
"Tinggal bagaimana kita bicara pengembangan tebu rakyat dan dukungan KLHK. Di KLHK ada hutan yang bisa dikonversi seluas 12,82 juta hektar yang tersebar di Indonesia," katanya.
Seiring dengan pertambahan luas area dan peningkatan produksi tebu nantinya akan diikuti oleh hasil-hasil samping dalam bentuk molases dan tetes.
"Kami di SGN berencana mengkonversi tetes menjadi bioetanol untuk mendukung ketahanan energi. Fuel grade ethanol nanti akan dipakai untuk subtitusi bahan bakar," jelas Aris. (KS-5)