Dorong Petani Kopi Manfaatkan Peluang Ekspor

Fernanda Reza Muhammad dari Akademi Mudah Export (dua dari kanan) di acara “Coffe Talk” dalam rangkaian Java Coffe Culture (JCC) 2023 (JCC 2023) yang digelar Bank Indonesia Jatim, Sabtu (8/7/2023).

 

KANALSATU – Permintaan komoditas kopi terus meningkat. Tidak hanya di dalam negeri, namun di pasar luar negeri juga terjadi peningkatan permintaan seiring dengan perubahan gaya hidup.

Menurut data International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi global mencapai 166,35 juta kantong berukuran 60 kilogram pada periode 2020/2021. Jumlah itu meningkat 1,3 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebanyak 164,2 juta kantong berukuran 60 kilogram.

Uni Eropa menjadi wilayah dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi di dunia, yakni 40,25 juta kantong berukuran 60 kg. Posisinya disusul Amerika Serikat yang mengonsumsi kopi sebanyak 26,3 juta kantong berukuran 60 kg.

Negara dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi berikutnya adalah Brasil, kemudian Jepang. Sementara Indonesia di urutan kelima dengan konsumsi kopi sebanyak 5 juta kantong berukuran 60 kg. Adapun konsumsi kopi di Rusia sebanyak 4,7 juta kantong berukuran 60 kg.

Melihat besarnya kebutuhan kopi dunia, Fernanda Reza Muhammad dari Akademi Mudah Export mengatakan bahwa sudah saatnya petani milenial mulai mencoba melakukan ekspor karena pasarnya masih terbuka lebar dan sangat potensial.

Ia memaparkan, dari harga pada saat panen yang hanya mencapai Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram di tingkat petani, saat ekspor bisa mencapai USD 9 hingga USD 11 per kilogram.

”Itu ada gap yang sangat tinggi. Ini yang harus kita pelajari, kenapa yang menikmati adalah pedagang kopi, bukan petani. Petani hanya ingin ketika panen kopinya langsung terjual. Harus ada edukasi. Saatnya generasi muda petani milenial bergerak, ini adalah peluang pasar yang bisa diambil,” ungkap Fernanda Reza Muhammad saat menjadi pembicara di acara “Coffe Talk” dalam rangkaian Java Coffe Culture (JCC) 2023 (JCC 2023) yang digelar Bank Indonesia Jatim, Sabtu (8/7/2023) petang.

Ia menegaskan, pasar lokal saat ini memang tengah bertumbuh dan besar, tetapi terjadi secara parsial atau terpisah-pisah. Sementara pasar ekspor biasanya volume pembelian langsung besar.

“Bagaimana peluang ini bisa diambil. Tantangan dan hambatan ada, tetapi itu bisa dipelajari. Yang penting bagaimana petani mendapatkan informasi pasar, punya informasi peluang dan punya keinginan maju. Dan acara JCC ini sebagai salah satu langkah strategis BI untguk mewujudkan impian tersebut,” katanya.

Terlebih Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi kopi global mencapai 170 juta kantong per 60 kg kopi pada periode 2022/2023.

Jumlah ini meningkat sebesar 2,8 persen dari periode sebelumnya (year-on-year/yoy) yang tercatat telah memproduksi kopi sebanyak 165,37 juta kantong pada 2021/2022.

Indonesia tercatat sebagai negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia pada 2022/2023 yang telah memproduksi kopi sebanyak 11,85 juta kantong. Secara terperinci, Indonesia memproduksi kopi arabika sebanyak 1,3 juta kantong dan kopi robusta sebanyak 10,5 juta kantong. Sebanyak 75 persen kopi yang dihasilkan Indonesia, berasal dari daerah dataran rendah di Sumatra Selatan dan Pulau Jawa

Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menyebutkan, pada tahun 2022 luas areal tanaman perkebunan kopi di Jatim seluas 113.148 hektare. Seluas 25.730,13 hektare atau setara 22,63 persen di antaranya merupakan pemanfaatan kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani melalui pola agroforestri.

Besarnya potensi kopi di pasaran memiliki tren pertumbuhan, terutama dalam tiga tahun terakhir. BPS Jatim mencatat, pada tahun 2020-2021 Jatim menjadi provinsi dengan nilai ekspor kopi terbesar ketiga nasional setelah Lampung dan Sumatera Utara.

Rinciannya, nilai ekspor pada tahun 2020 sebesar USD103,4 juta dan pada tahun 2021 sebesar USD133 juta. Pada Oktober 2022, kinerja ekspor kopi dari Jatim berhasil mencapai 81.495.107 kilogram (kg) atau dengan nilai ekspor mencapai USD186,22 juta.

“Oleh karena itu, kita harus memiliki strategi agar bisa menaklukkan pasar ekspor. Salah satunya adalah dengan diferensiasi atau kekhususan. Jatim memiliki jenis kopi yang tidak ada di dunia,” ujarnya.

Seperti Kopi Arabika Bondowoso merupakan satu-satunya produk Kopi Specialty (Kopi Blue Mountain) di Jatim yang telah mendapatkan Sertifikat Perlindungan Hak Indikasi-Geografis pada tahun 2013. Juga kopi liberika dari Wonosalam yang mengandung sulvur. “Ini tidak banyak di dunia, ini yang harusnya dijual. Kalau itu dibuat story dan diangkat itu sangat luar biasa,” pungkasnya. (KS_5)

 

Komentar