El Nino, Produksi Garam Lokal Diperkirakan Bisa Lebih dari 2 Juta Ton

Direktur Jenderal Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Miftahul Huda dan Presiden Direktur PT Susanti Megah, Hermawan Susanto saat Gathering Pemerintah, Pengusaha dan Petani Garam yang diselenggarakan PT Susanti Megah di Surabaya, Jumat (11/8/2023).

 

KANALSATU – Adanya El Nino atau musim kemarau yang lebih panjang diperkirakan akan meningkatkan produksi garam lokal. Dengan demikian diharapkan bisa mengurangi impor.

”Sesuai dengan prediksi BMKG, tahun ini akan terjadi El Nino. Kami perkirakan produksi garam lokal akan mencapai 2 juta ton. Kemungkinan bisa tambah, tapi itu angka yang aman,” kata Direktur Jenderal Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Miftahul Huda ditemui disela Gathering Pemerintah, Pengusaha dan Petani Garam yang diselenggarakan PT Susanti Megah di Surabaya, Jumat (11/8/2023).

Sementara di tahun lalu ketika terjadi La Nina, produksi garam lokal hanya mencapai 1,1 juta ton.

Dengan meningkatnya produksi diharapkan dapat menurunkan impor garam yang disepakati mencapai 2,8 juta ton pada tahun ini.

Mengenai peningkatan produksi tahun ini, dikatakan Huda harus disertai dengan perbaikan kualitas. “Di Madura diperkirakan hujan turun pada Desember. Artinya, kemarau yang panjang tidak hanya meningkatkan produksi, tapi harus dibarengi dengan perbaikan kualitas garam,” Huda menambahkan.

Karena itu Ia memuji langkah produsen garam, PT Susanti Megah dalam meningkatkan kualitas maupun produksi dengan memberi edukasi kepada sejumlah petani garam dari berbagai daerah. “Edukasi ini perlu direplikasi perusahaan lain, agar ada jaminan harga dan serapan garam di tingkat petani. Langkah ini memiliki manfaat besar dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Presiden Direktur PT Susanti Megah, Hermawan Susanto menegaskan edukasi kualitas garam dengan tingkat petani akan terus dilakukan. Ia berharap petani bisa memproduksi garam yang mendekati produk impor.

“Kalau menyamai garam Australia, rasanya tidak mungkin. Sebab garam Australia dipengaruhi kemarau yang lebih panjang. Penjemurannya bisa lebih dari satu tahun,” ujar Hermawan.

Pembekalan kepada petani garam ini meliputi proses produksi. Selama ini banyak petani yang memanen garam kurang dari dua minggu. Akibatnya garam cenderung basah dan sulit diserap industri. Menurut Hermawan, menjemur garam minimal 2-3 minggu untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik.

Susanti Megah menegaskan komitmen terhadap produksi garam yang dihasilkan petani. Sebab perusahaan asal Surabaya ini membutuhkan pasokan 10-12 ribu ton garam petani.

“Itu kalau kondisi cuaca sedang bagus. Tahun lalu produksi garam dalam negeri jatuh, akibat La Nina. Akibatnya realisasi produksi jauh dari target,” imbuhnya. Menurutnya, siklus seperti ini bisa terjadi 5-6 tahun.

Tahun lalu produksi garam di Susanti Megah turut jatuh, akibat musim hujan yang panjang. Namun produksi tahun lalu tertolong stok dari tahun sebelumnya.

(KS-5)

Komentar