Ketua DPD RI Soroti Wacana Debt Transfer Utang Holding Perkebunan

KANALSATU - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyoroti rencana aksi korporasi Holding terhadap Perusahaan BUMN Perkebunan (PTPN III) senilai Rp41 triliun.
Rencana yang mendapat sorotan LaNyalla itu adalah menawarkan pengalihan utang (debt transfer) ke bank-bank plat merah (Himbara).
Alasan Ketua DPD RI, selain mendapat tentangan dari sejumlah kreditur lama, holding perusahaan perkebunan tersebut masih punya pekerjaan besar untuk memperbaiki performa dan menyelesaikan beberapa persoalan yang melilit.
LaNyalla juga mengingatkan bank-bank negara untuk mengedepankan prudential banking principle, melalui prinsip 5C (character, collateral, capacity, capital dan condition of economic) yang ketat. Sehingga bukan karena sesama BUMN, lalu prinsip kehatian-hatian menjadi kendor.
“Ingat lho, ada ancaman pidana dan denda bagi bank yang terbukti tidak menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Apalagi ada sejumlah isu, yang melingkupi perusahaan holding perkebunan itu,” tegasnya di Jakarta, Rabu (30/8/2023).
LaNyalla menambahkan, sejumlah persoalan yang melingkupi perusahaan tersebut harus menjadi prioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu, diantaranya PTPN II yang masih tersangkut masalah terkait pelepasan aset HGU.
Sementara PTPN XI kantornya baru digerebek KPK, yang mengangkut sejumlah dokumen.
“Clear-kan dulu masalah-masalah itu. Termasuk mengapa kreditur lama menolak skema aksi korporasi tersebut. Biar terang informasi tersebut. Terutama bagi bagi bank Himbara. Sebab di situ ada dana publik dan penyertaan modal negara,” tandasnya.
Ketua DPD RI mengaku akan meminta Komite IV di DPD RI yang menjadi mitra pengawas perbankan serta moneter dan fiskal untuk mencermati hal ini. (ard)