Satu Padu dan Pertamina, Kembangkan Lahan Rawa Jadi Penguat Ketahanan Pangan Warga

KANALSATU – Dengan telaten Siti Muchayanah menuangkan biji kacang sacha inchi yang sudah kering ke alat pemeras yang memisahkan ampas dari cairan minyak. Biji kacang yang diletakkan di mangkok plastik tersebut tidak bisa dimasukkan sekaligus. Yana-sapaan akrab Siti Muchayanah, mesti menuangkannya sesendok demi sesendok. Sebelumnya, biji kacang sudah disangrai terlebih dahulu.
Sementara Lesly Ikawati yang saat itu mendampingi Yana-sapaan akrab Siti Muchayanah bertugas menyisihkan ampas hasil perasaan agar prosesnya menjadi lebih lancar. Air hasil perasaan masih berwarna coklat. Dikatakan Lesly, setidaknya dibutuhkan waktu sampai dua minggu sebelum ampas yang masih terkandung dalam cairan minyak tersebut benar-benar mengendap dan minyak menjadi menjadi benar-benar bening.
Keduanya merupakan anggota dari Kelompok Satu Padu (Pusat Usaha Pertanian Terpadu) di Kelurahan Jambangan. Sejak 6 April 2021, Kelurahan Jambangan sudah menjadi wilayah binaan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga- Integrated Terminal Surabaya.
Ketua Tim Satu Padu, Sunarmi mengungkapkan lahan yang sekarang hijau dan asri ini dulunya adalah rawa-rawa. Meskipun berada di belakang Kantor Kelurahan Jambangan, namun lahan tersebut tidak termanfaatkan. ”Dulu gak ada yang berani masuk sini soalnya gelap kaya hutan. Akhirnya sejak 2021, kami mendapat CSR Pertamina, lahan di sini diuruk, ditanami sayuran dan ada perikanan lele juga. Sekarang ini pengurukan sudah 50 persen. Jadi masih bisa dikembangkan lagi,” tuturnya.
Dengan kegigihan ibu-ibu Satu Padu dan pendampingan dar Pertamina, lahan ini sekarang rindang. Bahkan di tengah teriknya cuaca Kota Surabaya, semilir angin bisa memberikan kesejukan.
Di bagian depan, terdapat café yang digunakan untuk memasarkan produk olahan seperti ice cream, abon lele, manisan belimbing dan tomat hingga minyak Sacha Inchi yang merupakan produk terbaru Satu Padu Jambangan.
Di bagian kiri tampak kebun yang ditanami berbagai tanaman sayur dan buah mulai pisang, cabe, terong, pakchoy, tomat, kubis, kacang panjang dan lain-lain. Semuanya ditanam secara organik tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Di sebelahnya tampak kolam lele serta sebuah saung yang nyaman.
Lebih ke belakang lagi ada sebuah pohon besar serta rambatan untuk tanaman kacang Sacha Inchi yang di bawahnya di letakkan kursi dan meja. Di sebelahnya lagi, ada dua petak rumah jamur yang terbuat dari anyaman bambu.
Semua Termanfaatkan
Sunarmi menuturkan, pengembangan tanaman kacang Sacha Inchi sebenarnya baru dimulai sejak awal tahun 2023 ini. ”Kacang masih asing di Indonesia dan sebenarnya kurang cocok ditanam di Surabaya yang panas. Tapi Pembina kami yaitu Bu Riris (Risnani) tetap ulet. Akhirnya kacang ini kami tanam dan kemudian dirambatkan di dekat pohon yang rindang, tidak terkena sinar matahari langsung. Dan ternyata begitu panen, sampai sekarang terus berbuah,” tuturnya.
Minyak Sacha Inchi memiliki banyak khasiat. Di antaranya mengandung Omega 3, 6 dan 9 yang baik untuk daya kembang anak. Selain itu, minyak Sacha Inchi juga baik untuk metabolisme tubuh. Selain dikonsumsi, minyak ini juga bisa dioleskan di kulit yang dapat meredakan iritasi dan gatal-gatal. ”Cucu saya iritasi kena pampers, seharian nangis terus. Akhirnya saya olesi minyak ini pagi hari, sorenya sudah tidak ada bekasnya,” jelasnya.
Tim Satu Padu saat ini menjual minyak Sacha Inchi dalam kemasan botol 100 mili liter yang dijual sekitar Rp90 ribu per botolnya. Setidaknya 1 Kg kacang Sacha Inchi bisa menghasilkan 4 botol ukuran 100 mili liter.
Biji kacang yang diperas selain menghasilkan minyak, hasil sampingnya adalah berupa ampas yang sebenarnya juga bisa digunakan sebagai pengganti tepung untuk kue. Tidak sedikit warga Jambangan yang membeli ampas ini untuk kemudian diolah dan kemudian dipasarkan. Menurutnya, rasanya seperti kue kacang.
Hampir semua bagian dari kacang ini bisa dimanfaatkan. Kulitnya yang sudah dikeringkan dengan tingkat kekeringan 7 persen bisa digunakan untuk pupuk. Sedangkan daunnya yang sudah diangin-anginkan juga bisa diolah menjadi minuman layaknya teh.
“Alat yang digunakan untuk pembuatan minyak ini tidak murah. Beruntung kami dibantu Pertamina dan mendapat pelatihan dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya,” kata Sunarmi lagi.
Seperti disebutkan sebelumnya, lahan yang dulunya tidak produktif ini sekarang sudah memiliki kolam lele. Hasilnya selain dijual juga dibagikan kepada masyarakat tidak mampu. ”Nah lele yang sudah besar-besar dan tidak laku, kami olah jadi abon,” ujarnya. Abon buatan ibu-ibu ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi karena bagus untuk anak-anak yang mengalami stunting. Karena itu pesanan abon lele terus mengalir dari PPK Kota Surabaya maupun dari wilayah-wilayah lain.
Selain lele, sayuran organik yang dihasilkan juga memiliki banyak peminat. Namun, bagi warga yang membutuhkan juga bisa datang dan mendapatkan sayuran ini secara cuma-cuma.
Inovasi baru lainnya adalah es krim sayur. Kudapan ini diluncurkan untuk mengatasi keengganan anak-anak mengonsumsi sayur. Bahan yang digunakan selain susu adalah daun sayur pakchoy. Bisa juga ditambahkan jamur sebagai topping. Dengan es krim ini, anak-anak secara tidak sadar akan mengonsumsi sayur sehingga kebutuhan gizinya bisa tercukupi.
Tidak jarang Satu Padu menerima kunjungan dari kelompok atau PKK wilayah lainnya untuk memberikan pelatihan pembuatan es krim sayur ini.
Dikatakan Sunarmi, 17 ibu-ibu yang menjadi anggota Satu Padu tidak menyangka kegiatan mereka bisa berkembang dan memiliki tambahan pengetahuan serta keterampilan. ”Manfaatnya tidak dirasakan ibu-ibu ini saja tetapi juga warga sekitar. Banyak yang kesini untuk mendapatkan bibit tanaman yang kemudian mereka tanam sendiri di pekarangan rumahnya. Saat panen, kami juga bagikan kepada yang membutuhkan,” jelasnya.
Semangat yang dimiliki ibu-ibu ini akhirnya juga menular ke lingkungan sekitarnya. Sehingga wilayah Jambangan menjadi lebih hijau dan memperkuat ketahanan pangan warga.
Unit Manager Comm, Rel & CSR Ahad Rahedi mengatakan Kelompok Satu Padu merupakan lanjutan dari Program Geblak atau Gerakan Balik Kanan di Kelurahan Jambangan. Sedangkan Satu Padu sendiri dimulai sejak 2021 berupa pembenahan lahan, pembangunan media tanam dan media perikanan, pengembangan kapasitas anggota kelompok, pendampingan secara berkala, pemberian peralatan pendukung dan pemberian bibit.
Kegiatan ini terus berlanjut hingga menjadi urban farming seperti sekarang. Selain memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat, program ini juga dapat mendukung penciptaan ruang terbuka hijau dan meningkatkan kualitas kesehatan di perkotaan. Dan ini sejalan dengan semangat penghijauan atau Go Green yang gencar dijalankan Pertamina. (KS-5)