Pertumbuhan Ekonomi Jatim Melambat, BI Beberkan Penyebabnya

Kepala KPBI Jatim, Doddy Zulverdi (dua dari kanan)
KANALSATU – Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jawa Timur (Jatim) menunjukkan, ekonomi Jatim tumbuh 4,86 persen selama triwulan III/2023. Meskipun masih mengalami pertumbuhan namun melambat dibandingkan triwulan II/2023 yang sebesar 5,1 persen.

Kepala KPBI Jatim, Doddy Zulverdi mengatakan ada beberapa hal yang menjadi penyebab dari perlambatan ini. Pertama adalah normalisasi belanja kementerian/lembaga dan APBD, serta belanja modal pemerintah yang masih terbatas sehinggga berdampak pada realisasi investasi yang melambat.

Perlambatan lebih dalam tertahan kenaikan konsumsi rumah tangga dan perbaikan net ekspor. Masing-masing didorong oleh perbaikan permintaan terhadap jasa keuangan, asuransi, kesehatan serta membaiknya permintaan mitra dagang utama Jawa.

Dia menambahkan, perlambatan investasi dipengaruhi oleh pembangunan proyek strategis yang mengalami penundaan. "Misalnya saja pembangunan Bandara Kediri dan smelter tembaga di Gresik. Selain itu investor masih wait and see akibat peningkatan ketidakpastian global dan safari politik domestik," kata Doddy beberapa waktu lalu.

Sedangkan kinerja konsumsi pemerintah melambat disebabkan normalisasi pasca oleh pencairan bansos, THR, dan gaji ke 13 untuk ASN pada triwulan II 2023.

Sementara itu beberapa hal yang menahan perlambatan kinerja adalah konsumsi rumah tangga seiring dengan kenaikan pengeluaran pendidikan (Tahun Ajaran Baru), peningkatan konsumsi peralatan rumah tangga, bahan bakar, serta suku cadang.

“Kinerja ekonomi Jatim pada triwulan IV 2023 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2023. Ini ditopang prakiraan kinerja konsumsi dan investasi yang lebih tinggi," jelas Doddy.

Lebih jauh Doddy menjelaskan, perekonomian global sedang melambat, tapi ada divergensi terutama negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang yang relatif bagus.

“Kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian membuat kondisi perekonomian di Indonesia ikut terkoreksi,” ujarnya.

BI Jatim, kata dia, berupaya mengimbangi dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendongkrak ekonomi domestik kedepan semakin baik. Diketahui saat ini dampaknya yakni kenaikan suku bunga di domestik serta nilai tukar rupiah yang tertekan.

“Alhamdulillah ekonomi domestik kita masih baik, ya. Mengapa? karena konsumsi rumah tangga dan investasi,” jelasnya.

Untuk inflasi, Doddy mengatakan per Oktober 2023 ini berada di angka 3,25 persen. "Memang angkanya lebih tinggi dari inflasi nasional namun masih sesuai track yakni 3 persen plus minus 1 persen. Inflasi terjadi kenaikan harga beras dan beberapa kenaikan komoditas pangan lain," ujarnya. (KS-5)
Komentar