Tingkatkan Kinerja Industri Gula Nasional, Kadin Jatim Usulkan Intensifikasi dan Pemberian Insentif

(kiri-kanan) Direktur utama PT Fireworks Indonesia Susan Tricia bersama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto dan Sekretaris Dinas perkebunan Jatim, Ujang Rachmad saat pembukaan Sugarex Indonesia 2023, Surabaya, Rabu (22/11/2023).

 

KANALSATU – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur tidak sepakat dengan langkah ekstensifikasi yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan produksi gula dalam negeri. Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengusulkan pemberian insentif dan intensifikasi lahan.

Kinerja industri gula nasional saat ini masih sangat jauh dari target. Pada tahun 2022, produksi gula nasional mencapai sekitar 2,350 juta ton per tahun dengan luas lahan sekitar 500 ribu hektar. Sementara konsumsi gula nasional mencapai 2,8 juta ton per tahun, sehingga ada defisit sebesar 450 ribu ton per tahun.

Adik Dwi Putranto mengatakan sebenarnya Indonesia, khususnya Jawa Timur sangat mungkin meningkatkan produksi gula dalam negeri. Hal ini bisa dilihat dari sejarah Indonesia pada tahun 1930 yang mampu menjadi eksportir gula terbesar ke dua di dunia.

Pada saat itu, produksi gula nasional mencapai sebesar 3 juta ton per tahun dengan luas lahan sekitar 200 ribu hektar.

"Mestinya dengan lahan seluas itu (500 ribu Ha) kita sudah bisa surplus dalam memenuhi gula nasional, tidak harus impor. Tetapi pemerintah saat ini justru sibuk menambah lahan. Ini adalah kebijakan putus asa," kata Adik saat memberikan sambutan dalam pembukaan pameran Sugarex Indonesia yang diselenggarakan oleh PT Fireworks Indonesia, Surabaya, Rabu (22/11/2023).

Menurutnya, langkah ekstensifikasi yang dilakukan pemerintah dengan menambah lahan tebu sebenarnya bukan solusi yang tepat. Karena peningkatan produksi gula nasional sebenarnya bisa dicapai dengan intensifikasi dan pemberian insentif.

"Bagaimana caranya yang 500 ribu hektar ini produktivitasnya dinaikkan. Ini yang harusnya menjadi fokus pemerintah. Dan persoalan ini hampir terjadi di seluruh komoditas pangan lain, tidak hanya pada komoditas tebu. Kalau kemudian pemerintah justru berupaya keras menambah lahan agar produksi naik, maka bagi kami, ini adalah kebijakan putus asa," tandasnya.

Dengan situasi seperti ini, yang diperlukan adalah riset terkait dengan intensifikasi, mulai dari pengolahan lahan hingga efisiensi pupuk dan penggunaan teknologi pertanian yang baik. Insentif untuk komoditas tebu juga harus diberikan, misalnya subsidi pupuk.

"Dulu pupuk ZA untuk tebu itu subsidi, tetapi sekarang tidak subsidi. Dan kalau bicara intensifikasi, maka harus teknologi yang dibicarakan. Mulai dari penggunaan teknologi untuk mengetahui kondisi lahan lahan, bagaimana teknologi pengolahan, sampai teknologi pemupukan," katanya.

Adik kemudian memberikan contoh layanan yang diberikan oleh PT Saraswanti, salah satu industri pupuk dalam negeri. Di PT Saraswanti, layanan pengobatan hama sudah menggunakan drone sehingga pemakaian bahan kimia dan pemakaian air lebih efisien serta lebih tepat sasaran.

Selain itu, jenis pupuk yang diproduksi juga custom, disesuaikan dengan kondisi tanah konsumen. "Misal saya memiliki lahan apel di Kota Batu, pupuk apa yang dibutuhkan, maka Saraswanti akan menugaskan tim untuk melihat tanahnya bagaimana. Sehingga pupuk yang dipakai akan sama dengan yang dibutuhkan oleh tanahnya. Ini lebih efisien. Ini yang selama ini ditunggu-tunggu petani, bagaimana biaya produksi bisa ditekan tetapi produksi meningkat," tandasnya

Pameran teknologi industri gula internasional Sugarex Indonesia ini dinilai sangat diperlukan oleh seluruh pelaku pergulaan nasional. Berbagai jenis teknologi dan peralatan canggih di industri pergulaan bisa dilihat oleh pelaku industri gula.

Pada kesempatan yang sama, Direktur utama PT Fireworks Indonesia Susan Tricia mengatakan, pameran Sugarex Indonesia 2023 yang diselenggarakan pada 22 - 23 November di Dyandra Convention Centre (DCC), Surabaya adalah pameran yang keenam dan diikuti oleh 80 peserta pameran dari mancanegara seperti Indonesia, Singapura, India, Perancis, Jerman, China dan Swedia.

Beberapa produk yang dipamerkan meliputi, teknologi alat berat, suku cadang, alat pabrik, mesin dan aksesorisnya serta lainnya.

 Kegiatan ini dinilai cukup penting mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen gula terbesar di dunia. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal sebagai pusat produksi gula meliputi Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

 "Surabaya, sebagai salah satu kota utama di Indonesia, memiliki peran yang signifikan dalam industri gula. Beberapa pabrik gula tebu terkemuka beroperasi di sekitar Surabaya, menyumbang pada produksi gula nasional. Selain itu, Surabaya juga memiliki peran strategis dalam distribusi produk gula ke berbagai wilayah di Indonesia," kata Susan Tricia.

Sekretaris Dinas perkebunan Jatim, Ujang Rachmad mengaku sangat senang dengan dipilihnya Surabaya sebagai tuan rumah pameran. "Jatim tempat paling tepat untuk dijadikan lokasi pameran karena Jatim adalah provinsi penghasil gula terbesar nasional. Jika produksi gula nasional mencapai 2,4 juta ton, maka 1,929 juta ton gula  tersebut dari Jatim atau 49,55 persen dari total produksi nasional.

"Capaian tersebut berkat kerja keras seluruh pihak di Jatim. Baik petani, kalangan pengusaha dan pemerintah untuk memberikan kontribusi teknologi di Jatim. Dan dengan adanya pameran yang menampilkan berbagai teknologi gula ini, harapan kami bisa terus menailkan produksi gula nasional sehingga swasembada gula nasional dapat terwujud," pungkasnya. (KS-5)

Komentar