Resmikan Pabrik Kedua, Moorlife Targetkan Produksi Hingga 30.000 Ton/Tahun

Founder and President Moorlife Hermanto Tanoko (dua dari Kiri) bersama Direktur Moorlife Adi Suhono saat peresmian Pabrik Moorlife di Nganjuk, Senin (4/12/2023).
KANALSATU - Brand plastic ware Moorlife Indonesia meresmikan pabrik kedua yang berlokasi di Nganjuk. Pabrik Moorlife Nganjuk saat ini dibangun di atas tanah seluas 3,5 ha, dengan proyeksi luas total yang akan mencapai 10 Ha.
Dengan luas tersebut, Moorlife menargetkan setiap bulannya mampu memproduksi hingga 800ton plasticware yang dioperasikan oleh 350 pekerja secara keseluruhan.
"Dengan 60 mesin yang ada, ditargetkan kapasitas produksi saat ini mencapai 10 ribu ton per tahun. Itu baru 35 persen dari total kapasitas produksi dan nanti dalam waktu lima tahun ke depan targetnya bisa 100 persen atau 30 ribu ton per tahun pada 2028," kata Founder and President Moorlife HermantoTanoko saat peresmian Pabrik Moorlife di Nganjuk, Senin (4/12/2023).
Pabrik terbesar Moorlife ini dioperasikan oleh MMM Plastic yang juga menaungi produksi untuk berbagai merek plastik lainnya.
Dengan semakin besarnya kapasitas produksi, diharapkan juga akan meningkatkan ekspor. Pada Agustus tahun lalu, Moorlife melakukan ekspor ke Filipina dengan muatan senilai Rp50 miliar.
Tidak hanya ke Filipina, Moorlife juga melakukan ekspor ke Malaysia dan Singapura. Moorlife juga aktif ikut pameran di negara lain, seperti Madagaskar, Nigeria, Republik Chili, Rusia, Hong Kong dan Vietnam.
"Ini akan menambah pendapatan devisa negara Indonesia. Apabila kapasitas produksi dirasa masih kurang, kami masih memiliki total lahan 40 hektar di samping dan di belakang pabrik untuk support Moorlife. Tentu ini untuk mengembangkan perekonomian daerah Ngajuk, Jatim dan Indonesia," kata Hermanto.
Direktur Moorlife Adi Suhono mengatakan dengan dibukanya pabrik terbesar ini, Moorlife akan terus berinovasi dan membanggakan Indonesia," ujar Adi.
Selain lewat produk-produknya, Moorlife juga akan terus berkontribusi lewat berbagai kegiatan yang berdampak positif untuk masyarakat luas.
Selain merayakan pembukaan pabrik terbesar, pada kesempatan tersebut Moorlife juga meluncurkan "Tumbler Penyemangat Moorlife".
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Iwan mengatakan bahwa keberadaan pabrik ini akan menguatkan lagi perekonomian Jatim.
Pada tahun 2022, Jatim defisit ekspor sebesar Rp133 triliun tetapi terhadap ekspor antar provinsi tumbuh Rp330 triliun.
Melihat data ekspor Jatim triwulan III/2023 mengalami pertumbuhan 6 persen. "Ini adalah sebuah optimisme Jatim dalam pertumbuhan ekonomi di akhir tahun. Tentunya optimisme ini dikaitkan juga dengan pembukaan pabrik ini. Mudah-mudahan Ngajuk akan menjadi area pertumbuhan ekonomi baru," ujar Iwan.
Saat ini, lanjutnya, Jatim tengah fokus pada pengembangan 10 kawasan industri baru di antaranya Nganjuk, Madiun, Ngawi, Banyuwangi, Madura dan beberapa wilayah kawasan industri yang tentunya menjadi percepatan di dalam ekonomi Jatim.
Deputi Bidang Kordinasi Perniagaan dan Industri Ali Murtopo Simbolon juga mengatakan bahwa pihaknya ditugaskan secara khusus untuk cari produk-produk yang siap dikembangkan ekspornya.
"Saat ini sudah diidentifikasi seusai arahan presiden untuk non tradisional market kita coba kembangkan. Moorlife sudah masuk pasar Afrika, salah satu non tradisional market yang kita coba kembangkan, juga di Amerika Selatan. Ini akan jadi fokus kita di tahun depan," kata Ali Murtopo Simbolon
Ia mengingatkan visi Indonesia emas 2045, tang membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7 persen. Income per kapita yang saat ini di USD 5.000 harus didorong ke USD 30.000.
"Itu syarat mutlak. Jadi peran Moorlife sangat dibutuhkan untuk mengembangkan 1 juta enterpreneur. Kalau sudah didapat bisa dikembangkan lagi menjadi 2 juta. Dan ini adalah syarat agar income per kapita naik," tambahnya. (KS-5)