Trauma Penyintas Bencana Bisa Terjadi Bertahun-tahun

KANALSATU – Trauma bisa terjadi bertahun-tahun, terutama bagi penyintas bencana, salah contoh adalah korban pasca tsunami Aceh.
Hal itu diungkapkan Ahmad Guntur Alfianto, dari Klaster Keperawatan Jiwa, Komunitas, Keluarga, dan Gerontik Sekolah Tnggi Kesehatan (Stikes) Widyagama Husada Malang.
Menurut dia, banyak penyintas yang mengalami trauma cukup lama. Hal ini biasanya terjadi pada bencana yang mengakibatkan jatuhnya korban cukup banyak.
Dalam hal ini, Ahmad Guntur membawakan materi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), dalam Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) Edisi 52, yang diadakan Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur.
Kegiatan ini digelar di Ruang Siaga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Jalan Letjen. S. Parman No.55, Waru, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (17/12/2023).
Ahmad Guntur lebih jauh menjelaskan, secara umum PTSD adalah gangguan mental yang terjadi pada seseorang karena mengalami kejadian traumatis.
Kondisi seperti dicontohkan seperti bencana alam, kecelakaan, terorisme, perang atau pertempuran, pelecehan seksual, kekerasan dan sejenisnya.
“Ada beberapa masalah kejiwaan akibat bencana. Di antaranya cemas, susah tidur, depresi, psikosis, trauma, dan PTSD,” ungkapnya.
Sedikitnya seratus peserta dan pengurus SRPB Jatim hadir dalam kegiatan ini, dan secara serius memperjatikan paparan diatas.
Selain mendapat materi PTSD, para peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis tekanan darah dan gula darah dari Stikes Kerta Cendekia, Sidoarjo.
Ahmad Guntur juga menjelaskan, ada beberapa tanda dan gejala PTSD, yaitu untuk anak-anak di antaranya sering ngompol, regresi, sulit bicara, selalu ingin nempel pada orang terdekat, hingga menangis tanpa sebab.
Sedangkan untuk dewasa tanda-tandanya adalah stresor, selalu mengingat peristiwa, menghindar, gejala gangguan pikiran dan perasaan, gejala reaktif seperti mudah tersinggung, dan gangguan sosial.
Sedangkan dalam klaster kesehatan jiwa pada bencana, terdapat kelompok yang menangani masalah kesehatan jiwa.
Kemudian, adanya relawan terlatih dan tenaga profesional. Selain itu, ada kegiatan dari pengkajian cepat, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Koordinator SRPB Jatim, Rahmad Subekti Kimiawan, mengatakan peserta bisa menyerap ilmu dari materi ini. Diharapkan bisa menjadi tambahan saat para relawan terjun ke daerah bencana. (ard)