Imlek Dongkrak Penjualan Ritel Surabaya Februari 2026

KANALSATU  – Kinerja penjualan eceran di Kota Surabaya diperkirakan kembali menguat pada Februari 2026, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Imlek. 

Bank Indonesia mencatat, ekspektasi pelaku usaha ritel terhadap penjualan tiga bulan ke depan menunjukkan tren optimistis.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Februari 2026 yang mencapai 175,6, meningkat dibandingkan Januari 2026 sebesar 174,4. Kenaikan indeks ini mengindikasikan adanya dorongan permintaan yang lebih kuat, terutama pada sektor ritel yang berkaitan dengan kebutuhan konsumsi rumah tangga dan gaya hidup.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim mengungkapkan, optimisme terhadap penjualan Februari 2026 juga didukung oleh kinerja ritel akhir tahun yang masih solid. 

Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia memprakirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 berada di level 500,4, tumbuh 17,0 persen secara tahunan (year on year/yoy), meskipun melambat dibandingkan November 2025 yang mencatat pertumbuhan 21,4 persen (yoy).

Secara sektoral, penguatan penjualan pada periode awal 2026 diperkirakan masih akan ditopang oleh kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, Suku Cadang dan Aksesori, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Selain itu, subkelompok Sandang diprediksi tetap mencatatkan kinerja positif seiring pola belanja musiman masyarakat.

Dari sisi harga, meningkatnya aktivitas konsumsi pada Februari 2026 juga berpotensi mendorong tekanan inflasi. Bank Indonesia mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum Februari 2026 naik signifikan menjadi 169,5, dari sebelumnya 158,5 pada Januari 2026. 

"Kenaikan ini menunjukkan ekspektasi pelaku usaha terhadap potensi peningkatan harga di tengah permintaan yang menguat pada momen Imlek," ujarnya.

Sementara itu, pada horizon yang lebih panjang, kinerja penjualan eceran diprakirakan melambat pada Mei 2026. IEP Mei 2026 tercatat sebesar 161,0, lebih rendah dibandingkan April 2026 yang sebesar 164,6. 

Perlambatan ini diperkirakan dipengaruhi oleh berkurangnya hari operasional penjualan akibat cuti bersama HBKN Idul Adha dan Hari Raya Waisak.

Sebagai gambaran, realisasi penjualan eceran Surabaya pada November 2025 menunjukkan penguatan yang signifikan. IPR November tercatat sebesar 496,1, tumbuh 21,4 persen (yoy) dan 1,3 persen secara bulanan (month to month/mtm). Peningkatan tersebut sejalan dengan tren nasional, di mana IPR Nasional November 2025 tumbuh 6,3 persen (yoy).

Bank Indonesia menilai, proyeksi penguatan penjualan ritel pada Februari 2026 mencerminkan daya beli masyarakat Surabaya yang masih resilien, meskipun ke depan perlu diwaspadai potensi tekanan harga seiring menguatnya konsumsi pada periode hari besar keagamaan.
(KS-5)

Komentar