Pramita Kembangkan Rehabilitasi Jantung Modern

Hadirkan Workshop CPET hingga Terapi EECP di Surabaya

Salah satu fasilitas yang dimiliki Pramita Laboratorium Medis dan Klinis untuk memperkuat layanan rehabilitasi jantung modern.

KANALSATU – Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Di tengah meningkatnya kasus akibat pola hidup tidak sehat dan minim aktivitas fisik, PT Pramita memperkuat layanan rehabilitasi jantung modern melalui workshop ilmiah bertajuk “Optimizing Cardiac Rehabilitation: Integrating CPET, Telemetry and EECP Therapy into Real-World Practice” di Pramita Laboratorium Medis dan Klinik Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan yang digelar bersama Cardiology Prevention and Rehabilitation Working Group of Indonesian Heart Association itu diikuti dokter umum, dokter spesialis jantung, perawat, hingga tenaga kesehatan yang fokus pada rehabilitasi kardiovaskular.

Workshop tersebut membahas integrasi layanan rehabilitasi jantung modern melalui pemanfaatan Cardiopulmonary Exercise Testing (CPET), telemetry, dan terapi Enhanced External Counterpulsation (EECP) dalam praktik klinis sehari-hari.

Vice President Director PT Pramita, dr. Nabil Fachliansyah, mengatakan rehabilitasi jantung kini menjadi bagian penting dalam penanganan pasien penyakit jantung, terutama untuk meningkatkan kualitas hidup pasca diagnosis.

“Pasien jantung sering kali takut kembali beraktivitas setelah divonis sakit jantung. Melalui rehabilitasi jantung, pasien bisa dinilai kemampuan aktivitasnya, termasuk olahraga yang aman dilakukan,” ujar dr. Nabil.

Menurutnya, rehabilitasi jantung membantu pasien meningkatkan kapasitas fungsional secara bertahap. Pasien yang sebelumnya mudah sesak saat berjalan, kata dia, dapat mengalami perbaikan kondisi setelah menjalani program rehabilitasi yang terukur.

Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan pemaparan mengenai CPET sebagai standar emas penilaian kapasitas fungsional pasien, penggunaan telemetry untuk meningkatkan keamanan program rehabilitasi, hingga terapi EECP sebagai terapi tambahan bagi pasien refractory angina.

Salah satu narasumber, dr. Meity Ardiana, dr., Sp.JP., Subsp.P.R.Kv (K), M.H., menjelaskan pentingnya implementasi rehabilitasi jantung terintegrasi berbasis praktik klinis nyata atau real-world practice.

dr. Nabil menambahkan, penyakit jantung hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, hingga kurang aktivitas fisik menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit jantung.

Karena itu, Pramita kini memperkuat layanan kesehatan jantung melalui berbagai fasilitas pemeriksaan, mulai dari EKG, echocardiography, treadmill test, pemeriksaan laboratorium, evaluasi kebugaran, hingga terapi EECP.

“Selama ini banyak pasien jantung hanya mengandalkan obat seumur hidup. Dengan adanya rehabilitasi jantung, diharapkan ketergantungan terhadap obat bisa berkurang karena fungsi jantung ikut membaik,” katanya.

Ia menjelaskan program rehabilitasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsultasi dokter spesialis jantung, pemeriksaan CPET untuk mengukur kemampuan pasien, hingga sesi latihan fisik yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pramita juga menyiapkan program rehabilitasi dengan durasi berbeda, tergantung tingkat keparahan penyakit pasien. Secara umum tersedia hingga 12 sesi terapi, namun pasien dengan kondisi lebih ringan dapat mengikuti paket yang lebih singkat.

Selain bagi pasien jantung, layanan rehabilitasi tersebut juga ditujukan untuk individu aktif, atlet, hingga eksekutif perusahaan yang membutuhkan pemantauan kebugaran dan kesehatan jantung secara berkala.

Melalui workshop ini, Pramita berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya rehabilitasi jantung semakin meningkat sekaligus memperkuat kolaborasi dengan tenaga medis dan institusi kesehatan dalam pengembangan layanan rehabilitasi jantung di Indonesia. (KS-5)
Komentar