Kampanyekan Tanggap Stunting Guna Mendukung Tercapainya SDGs Desa

Penulis : Dewi Deniaty Sholihah
Dosen Prodi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur
KANALSATU - Upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga memerlukan kontribusi dari tingkat lokal, termasuk di desa. Inisiatif SDGs Desa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan pedesaan, sejalan dengan visi SDGs secara keseluruhan.
Melalui misi yang meliputi pengentasan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, perbaikan kesehatan dan gizi, peningkatan pendidikan, perlindungan lingkungan, serta akses air bersih dan sanitasi, SDGs Desa bertujuan untuk mencapai sejumlah target SDGs yang relevan, termasuk SDG 1 (pengentasan kemiskinan), SDG 3 (kesehatan yang baik dan kesejahteraan), SDG 5 (kesetaraan gender)
Salah satu tantangan yang signifikan dalam mencapai tujuan SDGs Desa adalah masalah stunting, yang memiliki dampak luas terhadap kesejahteraan anak-anak di pedesaan. Stunting, yang merupakan hasil dari kurangnya nutrisi yang memadai selama 1.000 hari pertama kehidupan anak, dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak-anak.
Hal ini secara langsung memengaruhi beberapa target SDGs Desa, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, dan akses air bersih dan sanitasi (SDG 1, 3, 5).
Di Indonesia, angka stunting di pedesaan masih menjadi masalah serius, dengan prevalensi yang tinggi dan berdampak luas pada pembangunan berkelanjutan. Angka stunting di desa-desa Indonesia telah menjadi masalah serius dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%. Sementara itu, prevalensi stunting di Jawa Timur pada tahun yang sama adalah sekitar 19,2% (https://kominfo.jatimprov.go.id).
Angka stunting yang tinggi di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor yang kompleks dan saling terkait. Pertama, akses terbatas terhadap pangan bergizi dan pola makan yang tidak seimbang merupakan penyebab utama stunting. Banyak keluarga di pedesaan masih menghadapi kesulitan dalam memperoleh makanan yang kaya akan nutrisi, terutama protein dan zat besi, yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Kedua, rendahnya akses terhadap layanan kesehatan berkualitas juga berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di Indonesia. Di beberapa daerah, fasilitas kesehatan yang memadai masih terbatas, sehingga sulit bagi masyarakat, terutama di pedesaan, untuk mendapatkan layanan kesehatan yang sesuai. Kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang sehat dan perawatan kesehatan yang tepat juga dapat mempengaruhi pertumbuhan anak-anak secara negatif.
Terakhir, faktor sosial dan ekonomi juga memainkan peran dalam tingginya angka stunting. Keluarga dengan tingkat pendapatan rendah cenderung menghadapi lebih banyak tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka. Selain itu, faktor-faktor seperti pendidikan orang tua, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, serta kondisi lingkungan yang sehat juga berdampak pada status gizi anak-anak.
Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi angka stunting di Indonesia harus melibatkan pendekatan yang holistik, termasuk peningkatan akses terhadap pangan bergizi, peningkatan layanan kesehatan, dan perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Upaya untuk mengatasi stunting di desa mencakup edukasi dan kesadaran, pelatihan dan pemberdayaan, serta kampanye sosial. Hal ini dapat terwujud dengan adanya kerjasama pentahelix oleh beberapa stakeholder, yaitu pemerintah desa, tenaga ahli fasilitas kesehatan, masyarakat, dan akademisi. Seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa bimbingan KKN Kolaboratif UPN Veteran Jawa Timur dengan proses diskusi bersama dosen Prodi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur menginisiasi program kampanye Tanggap Stunting.
Pada program ini, masyarakat desa diberikan edukasi yang menyeluruh tentang pentingnya gizi yang baik dan praktik kesehatan yang berkelanjutan. Para orang tua di desa diberikan pemahaman mendalam mengenai nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal anak-anak, termasuk pentingnya asupan protein, vitamin, dan mineral dalam sehari-hari.
Mereka juga diberikan informasi tentang pola makan yang sehat dan seimbang, serta cara memasak dan menyajikan makanan agar kandungan gizinya tetap terjaga. Selain itu, kampanye ini juga membahas pentingnya menyusui eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan anak, yang merupakan langkah penting dalam memberikan gizi yang cukup dan berkualitas bagi bayi.
Selain edukasi tentang gizi yang baik, kampanye Tanggap Stunting juga memberikan pemahaman tentang praktik kesehatan yang berkelanjutan kepada masyarakat desa. Hal ini mencakup edukasi tentang pentingnya kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, serta imunisasi dan perawatan yang tepat bagi anak-anak.
Para peserta juga diajarkan tentang praktik sanitasi yang baik, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air, serta pentingnya sanitasi lingkungan yang bersih dan aman. Dengan memberikan edukasi yang komprehensif tentang gizi dan kesehatan, kampanye Tanggap Stunting bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam mengambil langkah-langkah preventif yang efektif untuk mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan anak-anak mereka.
Sementara itu, pelatihan dan pemberdayaan perempuan di desa dapat meningkatkan akses mereka terhadap informasi dan sumber daya yang dapat meningkatkan kesehatan anak-anak dan kesejahteraan keluarga, sejalan dengan SDG 5. Pelatihan dan pemberdayaan perempuan di desa memegang peran krusial dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperkuat masyarakat setempat.
Dengan memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan, mereka dapat dilibatkan dalam berbagai pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait gizi, kesehatan anak, dan praktik kewirausahaan yang berkelanjutan. Contohnya, pelatihan tentang pembuatan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga membuka peluang usaha bagi perempuan di desa untuk meningkatkan penghasilan rumah tangga mereka.
Pelibatan perempuan di desa dalam pelatihan dan pemberdayaan, dapat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat lokal. Perempuan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam bidang gizi, kesehatan anak, dan kewirausahaan dapat berperan sebagai katalisator perubahan dalam komunitas mereka.
Mereka dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam menerapkan praktik-praktik yang sehat dan berkelanjutan, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi lokal melalui usaha-usaha yang mereka rintis. Dengan demikian, pelatihan dan pemberdayaan perempuan di desa bukan hanya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara langsung, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
Selanjutnya, kampanye sosial tanggap stunting juga mencakup penggunaan platform media sosial, penerbitan brosur, dan materi promosi visual lainnya sebagai sarana untuk menyebarkan informasi tentang stunting serta pentingnya asupan gizi yang memadai. Kampanye ini melibatkan berbagai strategi, termasuk penerbitan cerita sukses, pembuatan infografis, dan pembuatan video pendek, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan masyarakat terhadap isu tersebut.
Dengan mengintegrasikan pesan-pesan kampanye Tanggap Stunting dengan nilai-nilai dan tujuan SDGs Desa, kita dapat membantu membangun masyarakat pedesaan yang lebih sehat, berpendidikan, dan berdaya. Hal ini sesuai dengan aspirasi SDGs untuk menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan adil, serta mencapai kesejahteraan bagi seluruh penduduknya.
Dengan demikian, upaya lokal dalam mengatasi masalah stunting di desa tidak hanya mendukung pencapaian target SDGs Desa, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian SDGs secara keseluruhan.