Gelar Pelatihan di Lamongan, Ratusan Siswa SD Dapat Intervensi Gizi Lewat Program JAPFA for Kids

Kiri - Kanan: Camat Paciran Teguh Bagio; Kepala Puskesmas Paciran Riris Hantini; Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti; Kepala UPT Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Paciran Sriwinarti dan Head of HRGA Industrial Park Jakamitra Murih Hermawan saat pelatihan Japfa for Kids 2026 di SDN Kemantren, Paciran, Lamongan, Rabu (20/5/2026).

KANALSATU - Program peningkatan gizi anak yang dijalankan PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk melalui JAPFA for Kids terus diperkuat di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Melalui program tersebut, JAPFA menggandeng delapan sekolah dasar di Kecamatan Paciran untuk meningkatkan kesehatan dan status gizi siswa lewat pemberian protein hewani serta edukasi hidup sehat.

Sosialisasi program digelar bagi para guru di sekolah sasaran, yakni MIS Mu’awanah, MIS Mambaul Ma’Arif, MIS Muh. 07 Sidokelar, MIS Muh. 10 Tlogosadang, MIS Tarbiyatus Shibyan, SDN Kemantren, SDN Sidokelar, dan SDN Tlogosadang.

Kepala SDN Kemantren, Musri, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, bantuan asupan protein tambahan sangat dibutuhkan siswa untuk menunjang kesehatan dan pertumbuhan mereka.

“Selama ini sumber protein anak-anak lebih banyak dari ikan. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut karena sangat membantu meningkatkan kesehatan dan gizi anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, SDN Kemantren memiliki total 153 siswa. Namun sasaran program difokuskan kepada 117 siswa kelas 1 hingga kelas 5. "Untuk saat ini memang hanya siswa Kelas 1-5 karena Kelas 6 sudah mau lulus," terangnya.

Saat ini pihak sekolah juga telah melakukan pendataan tinggi badan sebagai bagian dari pemantauan kondisi gizi siswa.

Antusiasme terhadap program tersebut juga datang dari para siswa. Salah satunya Arfana Asyam, siswa kelas 5 SDN Kemantren, yang mengaku senang akan mendapatkan telur setiap hari.

“Senang kalau nanti dapat telur. Saya paling suka telur dadar sama ceplok,” katanya.

Program JAPFA for Kids sendiri telah berjalan selama 18 tahun dan terus menunjukkan dampak positif terhadap perbaikan status gizi anak di Indonesia. Berdasarkan data JAPFA, pada 2025 sebanyak 646 dari 1.034 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau setara 62,5 persen.

Sementara pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa atau sekitar 51,5 persen juga mengalami peningkatan status gizi menjadi lebih baik.

Data tersebut sejalan dengan tantangan gizi nasional yang masih dihadapi Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 11 persen anak usia 5-12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan program JAPFA for Kids dirancang secara terintegrasi agar dampaknya dapat terukur secara berkelanjutan.

Salah satu intervensi utama dilakukan melalui pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan kepada siswa dengan kondisi malagizi. Selain itu, JAPFA juga melakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital.

“Program ini dirancang agar dampaknya dapat terukur secara konsisten, termasuk melalui monitoring berkala terhadap perkembangan status gizi siswa,” ujar Retno.

Tak hanya fokus pada pemberian makanan bergizi, program ini juga mencakup edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga pembiasaan pola hidup sehat melalui kegiatan Hari Sehat JAPFA.

Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Di Jawa Timur, pelaksanaan program di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan sekitar 150 guru dari delapan sekolah dasar. (KS-5)

Komentar