Emil Dardak Dorong KUB Bank Jatim Jadi Role Model Perbankan Nasional

KANALSATU – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mendorong Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bank Jatim menjadi role model penguatan sektor perbankan nasional.
Hal tersebut disampaikan Emil saat menghadiri Rapat Kerja Tahunan KUB Bank Jatim di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (20/5/2026).
Dalam paparannya, Emil menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai pusat gravitasi ekonomi nasional dan penghubung utama kawasan Indonesia Barat dan Timur.
“Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa sekaligus nasional. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Jatim sebagai Gerbang Baru Nusantara,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada Triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen secara year on year, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Kontribusi ekonomi Jawa Timur tercatat mencapai 25,16 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,40 persen terhadap ekonomi nasional. Sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian disebut menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut.
Selain itu, Emil juga menyoroti kekuatan logistik Jawa Timur yang dinilai sangat strategis. Pelabuhan Pelabuhan Tanjung Perak diketahui melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional. “Hampir 80 persen logistik menuju 19 provinsi di Indonesia Timur disuplai dari Jawa Timur,” katanya.
Jawa Timur juga didukung infrastruktur besar mulai dari 12 ruas tol, 37 pelabuhan, tujuh bandara, 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga kawasan industri halal.
Dalam kesempatan itu, Emil menekankan pentingnya penguatan KUB sebagai strategi transformasi bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) agar tetap kompetitif di tengah tantangan industri perbankan global.
Ia berharap KUB Bank Jatim mampu menjadi contoh kolaborasi sehat antarbank daerah di Indonesia.
“Saya yakin KUB Bank Jatim dapat menjadi role model nasional, menghadirkan kolaborasi yang sehat dan produktif serta memperkuat konektivitas ekonomi Indonesia Timur,” jelasnya.
Menurut Emil, KUB tidak boleh dipandang sekadar pemenuhan regulasi, tetapi harus menjadi strategi memperkuat daya saing dan akselerasi ekonomi daerah melalui sinergi antar-BPD.
Ia juga mengapresiasi kinerja Bank Jatim sepanjang Tahun Buku 2025 yang dinilai tetap solid dan resilien. Pertumbuhan aset, kredit, dana pihak ketiga, hingga laba disebut menjadi fondasi kuat bagi pengembangan bisnis ke depan.
Di sisi transformasi digital, Bank Jatim mencatat lebih dari 993 ribu pengguna aplikasi JConnect dengan nilai transaksi digital mencapai Rp65,77 triliun. Transaksi QRIS juga tumbuh 60,76 persen secara tahunan.
Emil menilai industri perbankan kini menghadapi tantangan semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi global, disrupsi teknologi, perubahan perilaku nasabah, hingga risiko siber.
“Dalam situasi ini, BPD tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan penguatan skala, kolaborasi, dan sinergi agar tetap relevan dan kompetitif,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah dan Perbankan Daerah Otoritas Jasa Keuangan, Defri Andri mengatakan, Rapat Kerja Tahunan KUB Jatim menjadi momentum penting untuk memperkuat struktur dan daya saing industri perbankan daerah.
Ia menyebut tantangan industri perbankan saat ini dipengaruhi ketidakpastian global, konflik geopolitik, hingga pelemahan nilai tukar rupiah. Meski demikian, rasio keuangan BPD dinilai masih terjaga dengan baik.
Rapat Kerja Tahunan 2026 KUB Bank Jatim turut dihadiri anggota KUB seperti Bank NTB Syariah, Bank NTT, Bank Banten, Bank Sultra, dan Bank Lampung.
(KS-9)