Jurnalis Indonesia Ditahan Israel Saat Misi Gaza, Komunitas Pers Surabaya Turun ke Jalan

KANALSATU – Penahanan empat jurnalis Indonesia oleh militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza memicu gelombang solidaritas dari komunitas pers dan masyarakat sipil di berbagai daerah, termasuk Surabaya.
Keempat jurnalis tersebut berada di atas kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang dicegat militer Israel di perairan internasional sekitar 300 mil laut dari pesisir Gaza.
Berdasarkan laporan Command Center GSF, kapal Boralize dan Ozgurluk sempat kehilangan kontak sebelum akhirnya diketahui telah dikuasai militer Israel di sekitar wilayah Siprus.
Empat jurnalis Indonesia yang dilaporkan ditahan yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, serta Rahendro Herubowo yang merupakan kontributor iNewsTV dan CNN Indonesia.
Selain jurnalis, lima relawan kemanusiaan dari sejumlah lembaga filantropi nasional juga berada dalam kapal tersebut. Mereka membawa bantuan logistik berupa obat-obatan dan bahan pangan untuk warga Gaza.
Insiden ini langsung memicu aksi solidaritas di Surabaya. Koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya, Aksi Kamisan Surabaya, dan Forum Zakat Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di Taman Apsari, Kamis (21/5/2026).
Mereka mendesak pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik dan memastikan pembebasan tanpa syarat seluruh warga negara Indonesia yang berada dalam misi kemanusiaan tersebut.
Ketua PFI Surabaya, Suryanto, menilai tindakan militer Israel terhadap awak media di perairan internasional merupakan bentuk pelanggaran hukum humaniter internasional.
“Jurnalis bukan pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata. Konvensi Jenewa menjamin perlindungan terhadap pekerja media di wilayah konflik,” ujar Suryanto.
Ia menegaskan, negara harus hadir untuk melindungi keselamatan jurnalis Indonesia yang menjalankan tugas peliputan di wilayah konflik kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua AJI Surabaya, Andre Yuris, meminta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memperkuat jalur diplomasi internasional guna memastikan keselamatan para WNI.
Menurutnya, Indonesia perlu melibatkan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel seperti Turki, Mesir, dan Yordania untuk membantu proses negosiasi.
“Pemerintah perlu bergerak cepat agar para jurnalis dan relawan mendapat perlindungan hukum serta akses keselamatan,” katanya.
AJI Surabaya juga telah mengirim nota darurat kepada International Federation of Journalists (IFJ) dan sejumlah organisasi pers internasional lainnya untuk memperluas dukungan global.
Koalisi masyarakat sipil menilai pencegatan kapal sipil pembawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional berpotensi melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS.
Selain itu, tindakan tersebut dinilai menghambat akses informasi independen terkait situasi kemanusiaan di Gaza yang saat ini masih dilanda konflik berkepanjangan.
Meski menghadapi tekanan dan intimidasi bersenjata, komunitas pers dan relawan kemanusiaan menegaskan dukungan terhadap perjuangan kemanusiaan untuk Palestina tidak akan berhenti.
(KS-5)