Ini alasan SBY tak gunakan pesawat kepresidenan ke Fiji

Pesawat Kepresidenan RI

KANALSATU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama rombongan memilih menggunakan pesawat komersil dalam hal ini Pesawat Garuda Airbus 330, dalam kunjungannya ke Fiji pada 17-19 Juni 2014. Padahal, Indonesia baru saja membeli pesawat kepresidenan dan sudah bisa dioperasikan. Lalu, apa alasannya?

Menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, alasan penggunaan komersil lebih kepada pertimbangan teknis operasional. Pesawat kepresidenan hanya bisa menempuh 8 jam perjalanan untuk sekali jalan.

Sementara jarak Indonesia ke Fiji sekitar 9 jam 45 menit. "Sehingga tidak mungkin Presiden SBY langsung ke Fiji dari Jakarta (bila menggunakan pesawat kepresidenan)," kata Djoko di Jakarta, Jumat (20/6/14).

Bila dalam perjalanan pesawat harus singgah dulu, maka prosedurnya akan sangat rumit. "Untuk singgah seorang kepala negara, effort untuk presiden singgah sangat banyak. Harus expanse, terima pesawat, perhubungan dengan protokoler negara itu, sehingga menambah kompleksnya yang harus diurus. Siapkan expanse, dan tambahan anggaran dan lain-lain," terang Djoko.

Untuk transit di suatu tempat membutuhkan waktu 4 jam. "Dari fueling, imigrasi. Jadi banyak waktu terbuang hanya untuk transit. Sementara jadwal bapak presiden ketat," urainya.

Bandara alternatif yang bisa disinggahi sebelum sampai ke Fiji hanya di Sydney, Australia, dan Auckland, Selandia Baru. Dengan demikian, perjalanan Presiden SBY akan memakan lebih banyak waktu bila menggunakan pesawat kepresidenan.

"Sementara jadual Bapak Presiden ketat. Di Indonesia sendiri banyak kegiatan sehingga cari waktu yang pas. Begitu sampai langsung kegiatan. Jadi, waktu itu juga sangat penting," pungkas Djoko.(win6)

Komentar