Penurunan harga minyak sengsarakan Venezuela

KANALSATU - Venezuela meminta Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum-Exporting Countries/OPEC) dan negara-negara non-OPEC segera menggelar pertemuan. Venezuela berharap pertemuan itu bisa mengatasi penurunan harga minyak yang makin menyengsarakan pemerintah Presiden Nicolas Maduro.
“Kami sudah mengoordinasikan pertemuan khusus OPEC dan negara-negara non-OPEC untuk segera digelar. Pertemuan itu penting untuk mengambil keputusan memertahankan harga minyak dan pasar minyak dunia,” kata pemimpin yang negaranya tengah kekurangan uang itu dalam pidato televisi, Selasa (25/11/14) pagi WIB.
Dengan harga minyak mentah Brent kurang dari US$80 per barel atau turun lebih dari 25% sejak Juni 2014, Venezuela dan banyak negara produsen minyak utama lain terjepit. Krisis harga minyak di pasar dunia telah makin meruwetkan pemerintah yang sedang kesulitan menghentikan inflasi tinggi, kekurangan pangan dan obat-obatan. Venezuela memang amat bergantung pada ekspor minyak mentah. “Kami memertahankan industri kami, minyak kami, hidup kami.”
Venezuela dan Ekuador telah secara terbuka menyeru OPEC, kartel penghasil minyak beranggotakan 12-negara, untuk memotong produksi guna menopang harga. Namun, sikap negara-negara OPEC terpecah dalam soal pengurangan produksi.
Arab Saudi telah mengurangi harga ekspor minyak mentah ke AS. Langkah produsen utama minyak dunia itu disebut para analis sebagai upaya memertahankan pangsa pasar, karena menghadapi persaingan peningkatan produksi minyak serpih AS yang membuat dunia kebanjiran minyak, sehingga harga lebih rendah.
Maduro mengatakan, Menteri Luar Negeri Venezuela Rafael Ramirez tengah menjalani tur ke berbagai negara penghasil minyak dengan tugas khusus mendorong pengambilan tindakan guna menaikkan harga. Tur itu termasuk dilakukan ke Aljazair, Qatar, Iran dan anggota non-OPEC Rusia yang hubungannya dengan AS tengah genting.(win10)