Deadlock, Persebaya 1927-Suted Bhayangkara gagal merger

KANALSATU – Deadlock kembali. Ya, kisruh dualisme Persebaya masih belum bisa menemukan titik temu yang melegakan, niatan merger Persebaya United Bhayangkara dengan Persebaya 1927 yang berlangsung di gedung Tri Brata Polda Jatim, Rabu (20/04/16) sore menemui jalan buntu.
Dalam pertemuan dengan niatan penyatuan duo Persebaya ini hadir CEO PT Persebaya Indonesia, Chalid Goromah, Gede Wideade dari Surabaya United serta Irjen Pol. Condro Kirono yang mewakili PS Polri dan perwakilan PT. Gelora Trisula Semesta, Yeyen Tumena serta Djoko Driyono. Selain itu, hadir pula Hasan Tiro salah satu pentolan Bonek.
Condro Kirono selaku perwakilan dari PS Polri menyampaikan bahwa latar belakang pertemuan ini adalah untuk menyatukan kembali duo Persebaya yang selama ini menjadi ikon klub kebanggaan Kota Pahlawan.
“Pertemuan ini menjadi langkah nyata kepolisian dalam membantu sepakbola tanah air yang terhenti sejak PSSI dibekukan Kemenpora. Kami ingin membantu membangkitkan persepakbolaan nasional, salah satunya dari Surabaya,” ungkap Kapolda Jawa Tengah ini.
Bahkan pihak PS Polri akan mengambil alih seluruh tanggung jawab dengan membayar utang Persebaya 1927 sebesar Rp 7 Milliar kepada Gede Wideade.” Kita semua tentu berharap dualisme ini bisa segera selesai,” ungkap Condro.
Sayang, ketika Dirut PT Gelora Trisula Semesta, Djoko Driyono menyinggung soal penyatuan 30 internal klub, suasana kembali memanas ketika Chalid ogah untuk menyatukan kembali 20 klub internal yang selama ini menyeberang dan keluar dari Asprov PSSI Kota Surabaya.
“Sebelum menyatukan persebaya, kita terlebih dulu harus membuat 30 klub internal ini kembali. Karena dengan itulah persebaya menjadi utuh,” jelas Jokdri sapaan akrab Joko.
Sayang, hingga akhirnya suasana semakin menegang, saat pembahasan nama dan logo klub baru Cholid dan kawan-kawan enggan mengiyakan dua prototype logo terbaru.(win12)