Turki tolak anggapan peristiwa Armenia 1915 sebagai “genosida”

kekaisaran Ottoman

KANALSATU – Hubungan Turki dengan Jerman terancam renggang menyusul sebuah “resolusi” dari parlemen Jerman yang menegaskan bahwa pembunuhan 1,5 juta warga Armenia oleh Kekaisaran Ottoman pada 1915 adalah “genosida”. Namun Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersikap dingin atas resolusi tersebut, dan meyakini tidak akan berpengaruh negatif terhadap hubungannya dengan negara Eropa lainnya.

“Resolusi parlemen Jerman atas peristiwa 1915 itu tidak memiliki arti apapun. Resolusi itu tidak akan mengubah pandangan dan keyakinan Turki selama ini terkait masalah tersebut,” kata Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (04/06/16) sebagaimana dilaporkan LKBN Antara yang mengutip AFP.

Resolusi itu juga mendorong agar Ankara segera menarik duta besarnya di Jerman. Resolusi itu diputuskan melalui pemungutan suara pada Kamis (2/6/16) di Bundestag. Atas putusan itu Erdogan bertanya-tanya, “Bagaimana para pejabat Jerman masih punya muka untuk bertemu dengan pemimpin Turki setelah munculnya Resolusi,” kataya.

Namun demikian Erdogan menyatakan “terlalu dini” untuk membahas lebih lanjut langkah yang akan diambil Turki menyikapi resolusi parlemen Jerman, khususnya sefara ekonomi. “Sengketa dengan Berlin seharusnya tidak menjadi faktor merenggangnya hubungan Turki dengan Uni Eropa. Tidak ada untungnya bagi Turki jika bertindak dengan kebencian,” katanya.

Armenia mengklaim bahwa sekitar 1,5 juta rakyatnya tewas dalam aksi penyerangan oleh Ottoman – yang oleh parlemen Jerman disebut sebagai  genosida. Namun Turki juga sudah lama menolak anggapan bahwa peristiwa di Anatolia pada 1915 itu sebagai genosida. Peristiwa itu kembali mengemuka secara keras sehubungan dengan peringatan ke 100 tahun pada tahun lalu.(win4)

 

Komentar