IA ITB Dorong Pemerintah Percepat Hilirisasi Gas dan Minerba

 

KANALSATU - Ikatan Alumni Institute Teknologi Bandung (IA ITB) Jawa Timur mendorong pemerintah percepat hilirisasi gas dan minerba dalam negeri. Langkah ini diyakini menjadi solusi yang tepat atas membengkaknya subsidi energi.

Direktur Utama PT. Petrogas Jatim Utama Cendana, Hadi Ismoyo mengungkapkan bahwa besaran subsidi energi hingga saat ini memang masih cukup tinggi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi subsidi energi nasional pada tahun 2023 mencapai Rp159,6 triliun atau lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp145,3 triliun.

Realisasi subsidi yang terbesar masih pada sektor BBM dan LPG, yang mencapai Rp95,6 triliun, diikuti dengan subsidi untuk sektor Listrik sebesar Rp 64 triliun. Realisasi subsidi tersebut menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2022, di mana pada tahun tersebut subsidi energi sebesar Rp 174,4 triliun.

Menurutnya, salah satu cara untuk menurunkan subsidi adalah mengganti penggunaan LPG dengan gas alam.

”Gas alam sesuai dengan kearifan lokal kita, bahwa kita punya potensi gas yang besar, sedangkan LPG tidak banyak," ungkap Hadi Ismoyo saat menjadi pembicara dalam kegiatan Diskusi Kebangsaan dengan tema "Optimalisasi Nilai Tambah Industri Berbasis SDA Ekstraktif berupa Energi, Migas dan Mineral Batubara sebagai Lokomotif Ekonomi Bangsa dalam Mencapai Indonesia Emas 2045" dan Kongres Daerah VI IA ITB Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (27/1/2024).

Oleh karena itu, hilirisasi menjadi sebuah keniscayaan untuk mengurangi besarnya nilai subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan percepatan hilirisasi gas alam. Konversi gas LPG ke gas alam harus segera dilakukan.

"Itu harus kita bangun hilirisasi dalam bentuk pembangunan pipa gas yang massif, pembangunan Regas terminal, pipanisasi distribusi, pipanisasi transmisi, hingga pipa rumah tangga yang bisa gantikan LPG sehingga jangka panjang subsidi bisa diturunkan," katanya.

Namun hingga saat ini pemerintah masih berkonsentrasi menggarap infratruktur fisik seperti jalan, jembatan atau tol. Sementara infrastruktur gas bumi belum maksimal dibangun.

"Jadi kita harus mulai berbenah, fokusnya adalah dengan membangun infrastruktur gas supaya kita bisa mengkonversi BBM ke gas. Pemerintah harus memasukkan agenda pembangunan infrastruktur Gas yang massif, terutama di pulau Jawa dengan membangun terminal Sebanyak banyaknya CNG, mini energi," jelasnya.

Direktur Utama PT. Krakatau National Resources Koesnohadi yang juga menjadi pembicara mengatakan, dalam hal ini, IA ITB ingin menciptakan hilirisasi yang integratif, yaitu hilirisasi industri penjuru yang harus didukung dengan ekosistem penunjang.

Terkait kesiapan SDM, Ketua IA ITB Jawa Timur Terpilih 2024-2028 Ahmad Bismillahi Normansyah mengatakan saat ini pihaknya tengah menginventarisir keanggotaan sesuai dengan kompetensi masing-masing.

"Karena kita menyadari bahwa kita memiliki SDM yang melimpah tetapi saat ini belum terutilisasi tetapi sebagai bangsa, kita belum pernah berbicara tentang industrialisasi, dimana jumlah engineer yang kita miliki masih kurang," ujarnya.

Oleh karena itu IA ITB Jatim kedepan akan membawa gagasan penguatan SDM internal baik anggota maupun yang berafiliasi dengan ITB dan stake holder lain, baik industri maupun kalangan pesantren.

"Bagaimana SDM santri dibekali dengan teknikal sehingga mampu dan siap diterima industri. Kedepan, ITB akan menggandeng pesantren, memberikan edukasi bahwa santri ke depan juga harus bisa mengisi industrialisasi agar akses sosial bagi bisa ditekan. Intinya kedepan kami berkomitmen ikut membangun dan bertanggung jawab terhadap aman-nya lingkungan, SDM dan juga gagasan gagasan yang akan kami gaungkan," pungkasnya. (KS-5)

 

Komentar