Konsumsi Rumah Tangga Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Jatim 2024

Ekonomi Diperkirakan Tumbuh 4,6-5,4 Persen

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Doddy Zulverdi (tengah)

 

KANALSATU – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (Jatim) selama tahun 2023 mengalami perlambatan. Memasuki tahun baru ini, Bank Indonesia Jatim menilai bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa lebih baik.

Salah satu yang bisa diandalkan merupakan sektor konsumsi rumah tangga. Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Doddy Zulverdi menjelaskan, kondisi ekonomi Jawa Timur tahun ini memang masih memiliki bayang-bayang.

Salah satu bayangan utama adalah tren ekonomi global yang masih lemah. ’’Sepertinya tren ekonomi global masih berlanjut. Salah satu faktor yang dilihat adalah suku bunga the fed,’’ jelasnya saat Bincang Bareng Media (BBM) di Surabaya, Senin (29/1/2024).

Tahun lalu, banyak pihak memperkirakan suku bunga the fed bakal turun pada semester satu tahun ini. Karena itu, banyak yang memperkirakan kegiatan ekonomi global bakal kembali ramai. Namun, analisa yang dibuat beberapa saat terakhir mensinyalir bahwa bank sentral AS sepertinya tidak akan menurunkannya dalam waktu dekat.

Alhasil, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan masih lesu. Hal tersebut tentu juga punya pengaruh besar terhadap Jatim yang menjadikan pasar ekspor sebagai salah satu tulang punggung ekonomi. Hal tersebut pun terlihat dari pertumbuhan ekonomi 2023 lalu.

”Untuk angka pasti pertumbuhan 2023 kita masih menunggu BPS. Namun, kami memperkirakan bahwa kisaran pertumbuhannya ada di 4,6-5,4 persen,” jelasnya.

Secara realistis, dia mengatakan pertumbuhan ekonomi Jatim tahun lalu mungkin bakal lebih rendah dari capaian 2022. Yakni, 5,34 persen. Namun, Doddy yakin bahwa angka tersebut bakal berada di atas 5 persen.

Tahun ini, dia memasang kisaran pertumbuhan ekonomi provinsi antara 4,9 - 5,7 persen.  Harapannya, pertumbuhan tahun ini bisa lebih bagus. Meskipun, pihaknya mengatakan bahwa sektor ekspor belum bisa diandalkan.

”Yang bisa diandalkan tentu saja konsumsi rumah tangga dan investasi. Hal tersebut karena kebutuhan rumah tangga akan meningkat sekaligus belanja pemilu,’’ paparnya. Hal tersebut bisa jadi anugerah bagi produsen barang atau penyedia jasa yang mengincar sektor tersebut.

Misalnya, produsen makanan dan minuman, produsen alat kecantikan, atau produsen kebutuhan sehari-hari.

Doddy juga menyebut bahwa produsen tekstil, penyedia jasa percetakan, atau penyedia jasa periklanan bisa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi.

”Sektor lainnya bisa saja pertanian yang berkaitan dengan pangan. Meskipun, kita masih harus berhati-hati di sektor tersebut karena inflasi pangan Jatim tahun lalu cukup tinggi,” paparnya. (KS-5)

Komentar