Produksi Emas Mulai Menurun, BSI Siap Menambang Tembaga

KANALSATU - Kandungan emas di Tambang Emas Tujuh Bukit Banyuwangi yang dioperasikan PT Bumi Sukesindo (BSI) mulai mengalami penurunan.
Karena itu, operator tambang di bawah naungan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu tengah bertransisi dari sistem pertambangan open pit alias pertambangan terbuka menjadi pertambangan bawah tanah.
Selanjutnya, BSI juga akan lebih fokus menambang mineral lain, utamanya tembaga.
Heap Leach Operation Head PT Bumi Sukesindo Hariadhi Anjar Kusuma menuturkan, produksi emas di situs Tujuh Bukit mengalami penurunan dari semula mampu menghasilkan 3 - 4 gram emas per 1 ton ore (batuan/bijih yang ditambang) pada 2017 kini hanya sekitar 0,8 gram emas per 1 ton ore.
Tahun lalu, pihaknya mencatatkan poduksi 129 ribu ounce emas. Jika dibandingkan dengan capaian 2022 sebanyak 125 ribu, tambang emas di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, itu masih mencatatkan pertumbuhan.
''Tapi, tahun ini kami memproyeksi produksi emas turun menjadi 121 ribu ounce. Karena tambang dengan sistem open pit memang bakal makin susah semakin dalam lapisan tanah yang kami gali,'' jelasnya dalam mine tour Tujuh Bukit akhir bulan lalu.
Dia menjelaskan, sistem pertambangan open pit cukup sederhana. Penambang bakal menggali tanah untuk mencari ore alias batu mineral.
Ore tersebut bakal dipindah ke heap leach untuk dialiri air agar mineral mulia terpisah dengan tanah dan batuan lainnya.
Setelah itu, emas dan perak akan diserap oleh karbon aktif agar nantinya dijadikan satu batanganyang disebut dore bullion. Bahan tersebut lah yang akhirnya dimurnikan di Antam.
"Untuk solusi sementara, mungkin kita bisa menambah pad heap leach ke empat. Tapi, hakikatnya emasnya pasti makin jarang semakin dalam lapisannya. Prediksi kami 2027 akan susah untuk menerapkan sistem open pit,'' tegasnya.
General Manager BSI, Roelly Franza menambahkan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan uji kelayakan dalam peralihan dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.
Ada empat uji kelayakan yang sedang kami lakukan. Pertama layak secara teknologi, layak secara ekonomi, layak secara masyarkat dan ke-empat layak secara lingkungan.
"Keempat poin itu harus terpenuhi semuanya, kalau ada satu poin saja yang tidak terpenuhi maka uji kelayakan tidak akan diterima,” katanya.
Dia menambahkan, dengan perubahan sistem tersebut, otomatis perusahaan akan fokus untuk menambang tembaga. Sedangkan emas dan perak hanya akan menjadi produk sampingan. Harapannya, tambang bawah tanah bisa berproduksi pada 2027.
Untuk diketahui, produksi tambang tembaga bawah tanah yang berada di bawah tambang emas Tujuh Bukit - Banyuwangi diproyeksikan bisa menambah produksi tembaga di Indonesia sebesar 10- 15 persen.
Proyek yang masih dalam tahap studi dan tahap pembukaan jalur terowongan sepanjang 1,8 km itu juga diperkirakan bisa beroperasi selama 20 - 30 tahun, serta akan menjadi tambang tembaga terbesar ketiga setelah Freeport dan Batu Hijau di Sumbawa NTB.
Tambang tembaga ini mengandung sumber daya mineral sebanyak 1,71 miliar ton dengan kadar tembaga 0,47 persen, dan emas 0,50 g/t, yang mengandung sekitar 8,1 juta ton tembaga, dan 27,4 juta ounces emas (termasuk 443 juta ton sumber daya terindikasi dengan kadar tembaga 0,60 persen dan emas 0,66 g/t.
(KS-5)