Wujudkan Desa Berdaya, PLN UIT JBM Kembangkan Desa Wisata Sumber Banteng


KANALSATU - Sebagai komitmen pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) turut mewujudkan Desa Berdaya.

Salah satunya dengan pemberdayaan wisata sumber air alami Sumber Banteng yang berlokasi di Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur.

General Manager PLN UIT JBM, Amiruddin mengatakan Wisata Sumber Banteng ini berada di Ring 1 jalur SUTET 500kV Kediri -Paiton, dan SUTT 70kV Banaran -Pare.

"PLN Peduli mendukung para local hero yang mengelola sumber air alami ini agar tetap mengalir dengan penghijauan penanaman dan pelestarian pohon-pohon disekitarnya. Sumber air alami ini kemudian dikelola dan mendapat dukungan penuh dari PLN Peduli," jelas Amiruddin, Selasa (5/3/2024).

Amiruddin menambahkan pelestarian sumber air alami ini dikembangkan dengan pendampingan PLN Peduli.

"Mewujudkan desa berdaya, Wisata Sumber Banteng mengintegrasikan tiga pilar yaitu pendidikan, lingkungan dan pengembangan UMK, antara lain melalui pembangunan atraksi wisata alam, peningkatan kompetensi SDM melalui sertifikasi dan pelatihan K3, juga pengembangan budaya daerah seperti sanggar tari anak-anak," tambah Amiruddin.

Lebih lanjut, Amiruddin juga menyebut evaluasi dilakukan setelah program berjalan menunjukkan program Desa Berdaya PLN Peduli di Sumber Banteng ini berhasil.

Wisata Sumber Banteng berhasil dalam penerapan program Desa Berdaya dari PLN, karena membawa kebermanfaatan bagi masyarakat dengan peningkatan kompetensi SDM bersertifikasi Safety Guard, jumlah UMKM dan pengunjung yang meningkat signifikan.

"Apresiasi kepada seluruh stakeholder yang terlibat, sehingga pemberdayaan ini berhasil dan hubungan baik senantiasa terjalin antara masyarakat dengan PLN," tutur Amiruddin.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pokdarwis Sumber Banteng, Sudarsono mengatakan, wisata Sumber Banteng mulai dirintis pada tahun 2017.

Awalnya warga ingin menyelamatkan mata air karena air sangat penting untuk kehidupan. Sebelum dikembangkan menjadi destinasi wisata, air sumber digunakan untuk pengairan dan aktivitas warga serta untuk air minum.

"Di dekat sumber ada lahan seluas 100 meter persegi digunakan sebagai tempat jualan. Awal merintis hanya ada empat UMKM yang menjual nasi pecel, nasi jagung dan minuman. Setelah dikembangkan, jumlah warga yang berjualan semakin banyak. Saat ini ada 16 lapak UMKM," katanya.

Melalui dukungan PLN UIT JBM, destinasi wisata Sumber Banteng kian berkembang. Pada tahun 2018, Sumber Banteng mendapatkan bantuan sebesar Rp 500 juta dari PLN UIT JBM.

Dana tersebut digunakan untuk pengembangan fasilitas wisata Sumber Banteng, diantaranya untuk membangun sendang, patirtan, wisata sepeda air, terapi ikan, musollah, kamar mandi, cuci tangan, jalur defabilitas, lapak UMKM, membuat spot instagramable, pirilon tempat masuk, peningkatan SDM melalui sertifikasi K3, pemberdayan UMKM dan fasilitas glamping.

Hasilnya, saat ini tingkat kunjungan kian banyak. Di hari biasa, jumlah pengunjung mencapai 300-400 pengunjung. Sementara saat week end atau akhir pekan mencapai 1.000-1.500 pengunjung per hari.

Wisatawan datang dari sekitar kabupaten Kediri, kota Kediri, dan kota-kota sekitar Kediri. Juga ada yang dari Surabaya dan kota besar lainnya. Bahkan ada juga turis dari Rusia dan Malaysia.

"Pendapatan terus naik. Tiket masuk tidak ada, pengunjung boleh kasih seikhlasnya," jelasnya.

Pengunjung hanya dikenakan tarif jika naik perahu Rp3.000 per orang, sepeda air Rp5.000, bebek air Rp10.000 dan memberi makan ikan Rp2000.

"Sebulan sekali kami hitung, rata-rata laba yang kita peroleh mencapai Rp3 juta per minggu. Dana tersebut kami gunakan untuk kelanjutan pengembangan wisata," tandasnya.

Kedepan, ia berharap wisata Sumber Banteng bisa terus dikembangkan dengan mengacu pada tiga konsep, pengembangan alam, budaya dan tradisi.

"Harapan kami, destinasi ini bisa memperkuat ekonomi warga dan menambah lapangan pekerjaan. Bisa jadi icon kota Kediri. Saat ini sudah dinobatkan menjadi 10 kampung "Keren", kreatif, independen dan mandiri," pungkasnya. (KS-5)
Komentar