PG Pradjekan Targetkan Giling 4,9 Juta Kuintal Tebu
Lestarikan Budaya Tebu Manten

KANALSATU – Unit usaha Pabrik Gula (PG) Pradjekan yang dikelola PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak Perusahaan Holding Perkebunan PTPN III (Persero) siap memulai musim giling 2024. Giling direncanakan akan dimulai pada 20 Mei mendatang.
General Manager PG Pradjekan Moh. Sholeh Kusuma mengatakan, target giling tahun ini naik bila dibanding realisasi tahun sebelumnya.
”Target optimis kami menggiling tebu petani sejumlah 4,9 juta kuintal tebu. Sedangkan realisasi tahun lalu 4,3 juta kuintal tebu. Ini merupakan bagian upaya kami mendukung tercapainya swasembada gula,” kata Sholeh di sela-sela prosesi petik tebu manten, Senin (29/4/2024) di kebun tebu Mangli Bondowoso.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan Rolis Wikarsono berharap giling tahun ini lebih baik dibanding sebelumnya. Baik dari sisi harga gula serta performa pabrik sehingga berpengaruh positif pada tingkat kesejahteraan petani
"Tebu kami semua digiling ke PG Pradjekan dengan jumlah anggota kurang lebih 700 petani dan luasan lahan total 6.000 hektar,” lanjut Rolis.
Senior Executive Vice President (SEVP) Operation II SGN Imam Cipto Suyitno yang hadir dalam kegiatan menyebut performa yang dimiliki PG Pradjekan cukup membanggakan bahkan kerap dijadikan best practise bagi pabrik gula lainnya.
"Dengan kekompakan petani dan PG, target tersebut bukan angan-angan tapi mudah untuk diraih. PG Pradjekan sudah empat tahun selalu menunjukkan performa yang baik, mohon dukungan untuk mempertahankan prestasi. Jika tahun ini baik, maka menjadi performa terbaik berturut-turut selama lima tahun,” ungkap Imam.
Lestarikan Budaya Prosesi Tebu Manten
Prosesi petik tebu manten dimulai dengan menggelar doa bersama di kebun yang dihadiri oleh petugas PG serta menghadirkan tokoh masyarakat, petani dan undangan.
"Petik tebu manten sudah menjadi bagian dari kultur pabrik gula yang menandakan musim giling sudah tiba. PG Pradjekan saat ini sudah siap giling 2024,” terang Sholeh.
Sebagai simbolisasi pasangan pengantin, dipilih dua orang karyawan yang dirias dengan menggunakan busana adat pengantin. Sementara itu tebu yang dipilih telah diberi nama Sri Ratu Rosan Ayu Semseming Manis sebagai mempelai perempuan dan Sri Narendra Rosan Prakoso Madu Rasa sebagai perlambang mempelai pria.
”Tidak lupa beberapa hiasan dipasang disepanjang batang tebu pilihan tersebut. Hiasan tersebut berupa potongan kertas warna warni," jelas Manajer Tanaman PG Pradjekan Dwiana Ekawati.
Kemudian sepasang tebu yang menjadi simbol pasangan pengantin tersebut ditebang beserta beberapa batang tebu sebagai perlambang para pengiring pengantin tebu dan dilakukan prosesi siraman.
"Tebu yang telah ditebang tersebut diarak dari kebun menuju pabrik gula, tepatnya di stasiun Gilingan. Diiringi alunan kebo giro yang menjadi ciri khas arakan pengantin, batang tebu tersebut dibawa oleh barisan karyawan bagian tanaman untuk kemudian diserahkan kepada karyawan bagian pabrik dan dimasukkan ke dalam penggilingan pabrik gula," jelas Dwiana lebih lanjut.
Pihaknya menyebut prosesi tersebut menjadi simbolis harapan petani dan pabrik gula agar panen tebu berlangsung dengan lancar dan kualitas bahan baku tebu optimal atau telah masak serta diolah PG dengan baik.
Di beberapa daerah dalam prosesi arak-arak penganten tebu sering dipadukan dengan budaya lokal seperti Reog dan Bantengan. Prosesi sederhana ini telah dijalankan selama puluhan tahun hingga saat ini dan menjadi bagian budaya pabrik gula di Nusantara.
(KS-5)