Menikmati Momen Bersejarah di Semarang, Salat Id 'Berhadiah' Plesir di Gedung Ikonik Lawang Sewu

LAWANG SEWU: Suasana ribuan pengunjung saat salat Idul Fitri di halaman gesung ikonik Lawang Sewu, Senin (31/3/2025). (dok/kai)
Makanya sengaja aku atur waktu agar bisa sampai tepat waktu di gedung ikonik itu, karena untuk pertama kalinya Lawang Sewu menjadi lokasi pelaksanaan salat Idul Fitri 1446 Hijriah.
Tentu bukan hanya saya, warga kota Semarang atau bahkan dari luar kota pun pasti akan tertarik, artinya kabar pelaksanaan salat Idul Fitri di Lawang Sewu itu akan menarik antusiasme ribuan warga.
Benar saja, pada Senin (31/3/2025) terlihat sejak saya datang pukul 05:00 WIB warga sudah berdatangan, semua ingin ambil kesemoatan untuk mendapatkan tempat salat di Lawang Sewu.
Pagi itu Gerbang Lawang Sewu terbuka lebar dan warga boleh masuk gratis, meski khusus hari ini pengunjung dibatasi hingga pukul 08:30 WIB.
Dengan penuh semangat, saya ikuti Imam dan Khatib dalam salat tersebut adalah ustadz Makhasim, salat pun dilaksanakan pukul 06:15 WIB dilanjutkan dengan khotbah.
Ratusan jemaah dengan khusyuk mengikuti rangkaian salat Id tersebut.
Usai khotbah berakhir.
Lalu apa yang terjadi ? Benar dugaan saya, warga yang datang tidak langsung membubarkan diri dan keluar Lawang Sewu, namun sebagian besar menggambil momen dengan foto atau video.
Mereka tak ingin membuang waktu dengan sia-sia, pasti juga langsung berwisata di bangunan yang sudah berdiri sejak 1919 itu.
Seperti tercatat dalam sejarah, Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Tertulis dalam catatan bersejarah itu, Gedung itu dibangun pada tahun 1904-1907 dan selesai pada tahun 1919.
Gedung itu dirancang oleh arsitek Belanda, Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag.
Salah satu pengunjung dari Surabaya, Sri Astutik, mengatakan tahu ada salat Id di Lawang Sewu dari keluarganya di Semarang.
Dia kemudian memutuskan untuk salat Id di sana, lengkap dengan suami, empat putrinya aerta 4 cucu tercinta.
"Tahu dari saudara, saya dari Surabaya. Biasanya kalau salat Id di Semarang di Balai Kota. Seru sih di sini, bisa sekalian wisata," kata Sri Astutik yang juga menjelaskan bahwa saudaranya tinggal tidak jauh dari Lawang Sewu.
Pada kesemoatan terpisah, Manager Historical Building and Museum PT KAI Pariwisata Otnial Eko Pamiarso, saat itu mengatakan dengan digelarnya Salat Id di Lawang Sewu, ia berharap bisa memberikan pengalaman salat sekaligus berwisata.
Dia juga menyebut ternyata antusias warga sangat tinggi. Terbukti kegiatan ini menarik antusiasme pengunjung, yang jumlahnya mencapai ribuan.
"Dengan kami adakan salat Id di sini harapannya masyarakat Kota Semarang merasa memiliki Lawang Sewu. Ini adalah kantor kereta api pertama kali. Jika ada saudara yang pulang ke Semarang bisa menikmati Lawang Sewu sekaligus salat Id," kata Eko.
Pernyataan tersebut tidak salah, faktanya, Lawang Sewu adalah sebuah bangunan bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, dan masih mempunyai 'nilai jual' yang tinggi.
Awalnya, dirancang sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda.
Gedung itu memiliki arsitektur khas Belanda dengan banyak pintu dan jendela, yang menjadi asal mula namanya, Lawang Sewu yang berarti Seribu Pintu dalam bahasa Jawa.
Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu digunakan sebagai markas Kempeitai (polisi militer Jepang).
Setelah kemerdekaan Indonesia, Lawang Sewu digunakan sebagai kantor Badan Kereta Api Indonesia (DKARI) dan Kodam IV/Diponegoro.
Pada masa penjajahan Jepang, bangunan itu menjadi saksi bisu terjadinya pertempuran 5 hari di Semarang. (ard)