Suparma Tak Bagi Deviden Meski Selama 2024 Penjualan Meningkat 27%

KANALSATU - PT Suparma Tbk (produsen kertas ternama nasional) pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 memutuskan tidak membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya.
Keputusan itu ditetapkan setelah dikurangi pembentukan dana cadangan wajib sebesar Rp20 miliar, sisa laba bersih tahun berjalan 2024 digunakan untuk memperkuat struktur permodalan Suparma, dan untuk investasi yang sebagian besar bertujuan menuju peningkatan kapasitas mesin kertas perseroan itu.
Hendro Luhur, Direktur PT Suoarma Tbk, mengatakan selama tahun 2024, perseruannya berhasil membukukan pertumbuhan penjualan bersih 2,7% menjadi sebesar Rp2.729,6 miliar.
Pertumbuhan itu menurut dia disebabkan naiknya kuantitas penjualan Suparma sebesar 4,1%, atau mencapai 229,4 ribu MT, dimana Kraft dan Tissue menyumbang pertumbuhan kuantitas penjualan masing-masing sebesar 7,2% dan 5,2%.
Sedangkan kuantitas penjualan Duplex relatif, lanjut Hendro, tidak mengalami perubahan. Pada tahun 2024 beban pokok penjualan mengalami kenaikan 5,9% dibandingkan beban pokok penjualan tahun 2023 terutama disebabkan oleh kenaikan harga beli rata-rata bahan baku pulpsebesar 11%.
"Kenaikan beban pokok penjualan yang melebihi kenaikan penjualan menyebabkan Suparma membukukan penurunan laba kotor sebesar 12,3% dari semula Rp470,6 miliar di tahun 2023 menjadi Rp412,8 miliar di tahun 2024, sehingga marjin laba kotor tahun 2024 mengalami penurunan menjadi 15,1% dari semula 17,7% di tahun 2023," katanya saat RUPST di Surabaya, Selasa (10/6/2025).
Hendro juga menjelaskan bahwa beban ekspor dan pengangkutan Pada tahun 2024, beban penjualan mengalami kenaikan sebesar 1,8% yang terutama disebabkan oleh naiknya sebesar 2,1%.
Sedangkan beban umum dan administrasi mengalami sedikit penurunan 0,5% yang terutama disebabkan oleh menurunnya perbaikan dan pemeliharaan sebesar 36,7%.
"Suparma membukukan rugi selisih kurs sebesar Rp29,5 miliar akibat dari dampak melemahnya nilai tukar Rupiah. Hal ini menyebabkan penurunan laba sebelum taksiran beban pajak dan laba tahun berjalan, masing-masing sebesar 43,5% dan 41,3% atau menjadi Rp134,4 miliar dan Rp104,8 miliar," jelas Hendro.
Disinggung kondisi penjualan bersih dan kuantitas penjualan juga produksi kertas Suparma periode 2025, dia mengakui pada empat bulan terakhir berhasil menembus Rp837,8 miliar, atau setara dengan 27,9% dari target penjualan bersih 2025 sebesar Rp3.000 miliar.
Untuk kuantitas penjualan kertas Suparma disebutkan sebesar 69.595 MT, atau setara dengan 26,9% dari target kuantitas penjualan produk kertas tahun 2025 sebesar 258.600 MT.
"Sedangkan untuk hasil produksi kertas Suparma pada periode empat bulan tahun 2025, mencapai 72.475 MT, atau setara dengan 32,1% dari target produksi kertas tahun 2025 sebesar 225.800 MT," tutur Hendro. (ard)