Kinerja Petikemas Intra Asia Meningkat, Pelayaran Buka Rute Baru Indonesia–China

 

KANALSATU - Pertumbuhan arus peti kemas internasional di kawasan Asia, khususnya antara Indonesia dan China, menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2025. 

Kinerja ini mendorong sejumlah perusahaan pelayaran global membuka kembali rute-rute langsung antarnegara tanpa transit, sebagai respons terhadap lonjakan perdagangan intra Asia.

Data dari PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat bahwa volume peti kemas ekspor-impor internasional yang dilayani terminal di bawah kelolanya tumbuh 13,64 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sepanjang Januari hingga Juni 2025, tercatat sebanyak 2,1 juta TEUs peti kemas internasional, meningkat dari 1,8 juta TEUs pada semester pertama 2024.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyebut baik arus peti kemas ekspor maupun impor menunjukkan pertumbuhan signifikan. "Volume peti kemas ekspor tercatat 1,01 juta TEUs, sedangkan impor mencapai 998 ribu TEUs," jelasnya.

Sementara arus domestik juga tumbuh, namun lebih moderat, yakni 4,86 persen menjadi 4,2 juta TEUs. Total keseluruhan arus peti kemas internasional dan domestik mencapai 6,3 juta TEUs atau naik 7,61 persen secara tahunan.

Pertumbuhan terbesar terjadi di beberapa terminal utama seperti IPC TPK yang melonjak 43,26 persen menjadi 440 ribu TEUs dan TPK Semarang yang naik 17,7 persen menjadi 415 ribu TEUs.

Peningkatan signifikan pada jalur Indonesia–China menjadi sorotan utama bagi pelaku industri pelayaran. Ocean Express Network (ONE), perusahaan pelayaran asal Jepang, melaporkan pertumbuhan kargo antara 3 hingga 5 persen selama semester pertama 2025, dengan lonjakan tertinggi tercatat pada rute Indonesia–China.

Presiden Direktur ONE Indonesia, Keishin Watanabe, menyebut dinamika perdagangan global pasca kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi pemicu utama. “Banyak perusahaan yang merelokasi rantai pasok mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ini berdampak langsung pada lonjakan arus peti kemas,” katanya.

Melihat potensi pasar yang menjanjikan, Pacific International Lines (PIL) asal Singapura membuka kembali layanan langsung North China Indonesia (NCI). 

Rute ini menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di China langsung ke TPK Koja, Jakarta dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Tanjung Perak.

“Volume perdagangan antara Indonesia dan China sangat kuat. Ini alasan utama kami meluncurkan kembali layanan langsung ini,” ujar Presiden Direktur PIL Indonesia, Sujeeva Salwatura. Sebelumnya, PIL sempat menghentikan layanan ke Indonesia selama lima tahun terakhir.

Kenaikan arus pelayaran turut berdampak pada sektor logistik nasional. Gateway Container Line (GCL), salah satu penyedia jasa konsolidasi kontainer terbesar di Indonesia, mencatat pertumbuhan signifikan di berbagai lini.

Direktur Utama GCL, Hesty Rosmawati, mengungkapkan bahwa layanan impor LCL tumbuh 8,94 persen dan FCL impor naik 5,65 persen—mayoritas ditopang pasar China. Sementara itu, ekspor LCL tumbuh 9,2 persen dengan tujuan utama Jebel Ali dan Vietnam, dan FCL ekspor melonjak 23,4 persen ke ASEAN dan Uni Emirat Arab.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) serta Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat bahwa sektor transportasi dan pergudangan menyumbang 6,08 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada paruh pertama 2025. Dengan laju pertumbuhan mencapai 9,01 persen (YoY), sektor ini diperkirakan akan tumbuh 8,56 persen hingga akhir tahun, dengan kontribusi mencapai Rp1.517 triliun.

Menurut CEO SCI, Setijadi, lonjakan ini tak lepas dari meningkatnya aktivitas sektor industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan. “Ketiganya berperan besar mendorong permintaan logistik dan distribusi,” ujarnya. (KS-5)

Komentar