Harga Pangan Turun Usai Nataru, Jawa Timur Alami Deflasi 0,2 Persen di Januari 2026

Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Ike Rahayu Sri

KANALSATU – Tekanan harga di Jawa Timur mulai mereda pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,2 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari 2026, dipicu penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis dan jasa transportasi.

Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Ike Rahayu Sri, menjelaskan deflasi terjadi seiring melimpahnya pasokan bahan pangan, terutama cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat. Pasokan tersebut berasal dari produksi lokal maupun distribusi antarwilayah yang semakin lancar.

“Pada Januari 2026 Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,2 persen,” ujar Ike saat konferensi pers di Surabaya, Senin (2/2/2026).

Selain faktor pasokan, normalisasi permintaan pasca perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 juga turut menekan harga. Kondisi ini terlihat pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras yang mengalami penurunan harga akibat melemahnya permintaan dibandingkan Desember 2025.

Secara rinci, cabai rawit mencatat deflasi terdalam yakni 23,2 persen dengan kontribusi 0,11 persen terhadap deflasi Januari 2026. Disusul daging ayam ras yang turun 4,91 persen dengan andil 0,09 persen. 

Bawang merah mengalami deflasi 17,5 persen dengan kontribusi 0,08 persen, sementara cabai merah terkoreksi tajam hingga 35,09 persen dengan andil 0,05 persen.

Tak hanya bahan pangan, penurunan tarif angkutan udara sebesar 3,49 persen juga memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen pada Januari 2026.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. BPS mencatat bawang putih justru mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan impor pada awal tahun.

BPS menilai deflasi Januari 2026 ini terutama dipengaruhi oleh kelompok bahan pangan yang kembali stabil setelah lonjakan permintaan di akhir tahun. Kondisi tersebut mencerminkan terjaganya pasokan dan distribusi, sekaligus meredanya tekanan inflasi musiman di Jawa Timur.
(KS-5)

Komentar