Dinasti Pasir Nan Memalukan

Oleh: Hadipras

Pengamat Ekonomi - Politik, Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

KANALSATU Dunia modern adalah panggung sandiwara yang menjijikkan, di mana kebijaksanaan diukur dari deretan gelar akademis yang palsu atau dipesan, dan martabat ditimbang dari tumpukan aset hasil jarahan sistematis. 

Para penguasa-kita sebut saja mereka Arsitek Peradaban- sedang asyik membangun benteng dinasti dengan keyakinan narsistik bahwa mereka adalah dewa yang Too Big to Fail. Terlalu raksasa untuk sekedar tersandung.

Namun, sejarah adalah algojo yang memiliki selera humor yang gelap. Ia gemar menggunakan hal-hal yang dianggap "sampah" oleh para elit untuk meruntuhkan menara gading mereka.

Saat ini, para oligark dan komprador kita sedang sibuk mempercantik algoritma kekuasaan. Mereka merasa telah menjinakkan rakyat dengan mengubah mereka menjadi "angka pemilih" yang bisa dibeli dengan harga sebotol minyak goreng atau selembar uang lima puluh ribu rupiah yang harganya lebih murah dari tisu toilet di pesawat jet pribadi mereka. 

Mereka merasa sangat berhikmat karena berhasil mengontrol aliran modal, memanipulasi hukum, dan menyumpal mulut kritikus dengan jabatan.

Namun, di tengah kesombongan yang melangit itu, sebuah tragedi dari Kabupaten Ngada, NTT, muncul seperti petir yang menyambar lobi-lobi hotel mewah di Jakarta. YBS, seorang bocah kelas 4 SD, memilih mengakhiri hidupnya karena kasian pada ibunya tak punya uang Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. 

Bayangkan betapa busuknya peradaban ini: di sebuah negara yang elitnya gemar pamer jam tangan seharga miliaran, seorang anak harus meregang nyawa karena harga selembar uang yang bahkan tidak cukup untuk membayar tip pelayan kopi para koruptor.

Tragedi YBS adalah tamparan berdarah bagi wajah para penguasa yang sok bijak. Bagi para raksasa yang merasa too big to fail, nyawa anak ini hanyalah "gangguan statistik". Namun, justru di sinilah ‘Jalur Karma Finansial’ mulai bekerja. 

Saat mereka menutup akses rakyat terhadap kesejahteraan dasar, tanpa sadar mereka sedang mengundang badai yang akan menutup jalur pembiayaan politik mereka sendiri.

Lihatlah sekeliling: institusi keuangan yang mereka anggap sebagai brankas pribadi kini mulai digeledah. Direksi bank-bank besar yang menjadi lumbung "logistik" mulai rontok satu per satu. 

Jalur-jalur uang haram yang biasa mereka  pakai untuk melumasi mesin dinasti kini tersumbat oleh operasi intelijen dan hukum yang tidak lagi bisa mereka beli. 

Ini adalah hukum keseimbangan: ketika oligarki penguasa membiarkan seorang anak mati karena tak mampu membeli sebuah pena, maka alam semesta akan memastikan pena-pena kekuasaan mereka tidak lagi bisa menandatangani cek untuk menyelamatkan diri dari penjara.

Para komprador berpikir bahwa dengan menyuap rakyat, mereka telah membeli keabadian. Keliru besar!. Mereka tidak sedang membangun stabilitas; mereka sedang menabung kemarahan yang akan meledak saat mereka merasa paling aman. 

Oligarki penguasa meremehkan si lemah, tanpa menyadari bahwa air mata ibu yang kehilangan anaknya karena kemiskinan adalah bahan bakar bagi api karma yang kini mulai menjilat kaki-kaki kursi empuk mereka.

Peradaban yang dibangun diatas fondasi kesombongan intelektual dan penumpasan kemanusiaan adalah pertunjukan sirkus yang sedang menuju klimaks kehancurannya. 

Benteng dinasti mereka mungkin terlihat super kokoh, tapi ia tidak memiliki nyawa. Ia hanya cangkang kosong yang menunggu retak.
Mulailah merasa takut. Bukan pada musuh politik yang bisa di ajak kompromi, tapi pada kesucian nyawa yang mereka khianati. 

Karena dalam sejarah, panggung terakhir selalu disiapkan untuk menghancurkan mereka yang merasa tak tersentuh melalui cara-cara yang paling tidak mereka duga. 

Pena yang gagal dibeli oleh YBS hari ini, secara simbolis akan menjadi pena yang menuliskan surat perintah penggeledahan di rumah-rumah mewah mereka besok. Atau kemarahan rakyat yang berujung penjarahan?

Dalam komedi besar kehidupan ini, panggung terakhir selalu disiapkan untuk mempermalukan dinasti korup yang merasa paling berkuasa. Malu yang disertai ketakutan turun temurun nan penuh derita, karena tidak ada lagi tempat untuk sembunyi. 
(***)

Komentar