Rahasia Bugar Sarmi Jemaah Haji 90 Tahun Asal Madiun, Rutin Jalan Kaki ke Masjid dan Wajib Minum Kopi

KANALSATU – Semangat ibadah tidak mengenal batas usia. Kalimat ini sangat tepat menggambarkan sosok Sarmi Subari Rasyid, jemaah haji tertua dari Kloter 24 asal Kabupaten Madiun.
Di usianya yang telah menginjak 90 tahun, perempuan kelahiran 10 Mei 1936 ini akhirnya berangkat ke Tanah Suci didampingi putri keenamnya, Wiwik Hariningsih (48).
Lahir sebelum kemerdekaan Indonesia, Sarmi merupakan saksi hidup sejarah yang masih memiliki fisik prima. Rahasia kebugarannya terbilang unik dan sederhana: gemar beraktivitas dan tidak bisa lepas dari kopi.
Wiwik menceritakan bahwa sang ibu tetap aktif bergerak di rumah, mulai dari bersih-bersih mandiri hingga menjemur hasil panen, meski urusan sawah kini sudah dikelola orang lain.
"Ibu itu tipenya tidak mau diam, sehari-hari masih suka jemur hasil panen sendiri dan olahraga jalan kaki ke masjid yang jauh. Rahasianya ya 'los' saja soal makan, yang penting harus ada kopi. Kalau tidak minum kopi malah pusing, tapi kalau sudah kena kopi langsung segar dan siap beraktivitas lagi," ujar Wiwik saat ditemui di sela persiapan keberangkatan.
Keinginan Sarmi untuk menunaikan rukun Islam kelima ini sebenarnya sudah terpendam lama, namun pendaftaran baru dilakukan sekitar lima tahun lalu pada 2020.
Keputusan tersebut diambil tak lama setelah sang suami, yang merupakan purnawirawan TNI (ABRI), meninggal dunia. Menggunakan dana tabungan pensiun sang suami serta dukungan dari anak-anaknya, Sarmi memantapkan niat untuk berangkat.
Meski usianya hampir satu abad, Sarmi menunjukkan kemandirian yang luar biasa. Ia masih mampu melakukan aktivitas harian seperti mandi dan berpakaian tanpa bantuan. Ketangguhan fisik ini menjadi modal utama baginya untuk menghadapi rangkaian ibadah haji yang menguras energi di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi.
Bagi Sarmi, perjalanan ini bukan sekadar ibadah pribadi. Ia membawa harapan besar bagi keluarga besarnya yang sangat luas, termasuk puluhan cucu yang ia tinggalkan di tanah air.
"Keinginan haji ini sudah lama, tapi baru dipanggil sekarang. Persiapan saya hanya niat baik dan jaga fisik supaya sehat. Harapan saya nanti di sana berdoa untuk anak, cucu, dan keluarga semua supaya bisa barokah," tutur Sarmi dengan suara yang masih terdengar jelas.
Meskipun memiliki hampir lima puluh cucu, Sarmi tidak menunjukkan rasa lelah saat harus menempuh perjalanan jauh menuju Arab Saudi. Dukungan penuh dari keenam anaknya menjadi pilar utama yang menguatkan langkahnya, terutama Wiwik yang dengan setia menjaga setiap kebutuhan sang ibu. Mulai dari memastikan asupan nutrisi hingga menjaga suasana hati sang ibu agar tetap bahagia selama di perjalanan.
Bagi keluarga, keberangkatan Sarmi adalah bentuk penghormatan untuk menyempurnakan niat ibadah yang telah dipupuk sejak lama.
Kehadiran Sarmi di Kloter 24 Kabupaten Madiun ini pun menjadi simbol optimisme bagi para jemaah haji lansia lainnya agar tetap semangat menjalankan rukun demi rukun di Tanah Suci.
Dengan kemandirian yang masih terjaga dan rutinitas minum kopi yang menjadi "bahan bakar" energinya, Sarmi membuktikan bahwa usia hanyalah deretan angka jika dibarengi dengan hati yang tulus dan fisik yang senantiasa dilatih. Ia kini bersiap menapaki jejak spiritual di Mekkah dan Madinah, membawa doa-doa kebaikan untuk seluruh keturunannya. (KS-5)