Rakerkonprov, APINDO Jatim Bahas Strategi Tingkatkan Daya Saing dan Tarik Investasi

Ketua DPP APINDO Jatim Eddy Widjanarko (Lima dari kanan) saat pembukaan Rakerkonprov DPP APINDO Jawa Timur di Kota Batu, Rabu (22/4/2026).

KANALSATU – Rapat Kerja dan Konsultasi Provinsi (Rakerkonprov) DPP APINDO Jawa Timur 2026 di Kota Batu menempatkan penguatan daya saing industri sebagai isu utama. Forum ini membahas strategi menjaga keseimbangan antara upah, produktivitas, dan iklim investasi di tengah dinamika persaingan ekonomi antar daerah yang kian intens.

Ketua DPP (Dewan Pimpinan Provinsi) APINDO Jatim, Eddy Widjanarko, menegaskan bahwa tantangan dunia usaha saat ini tidak hanya datang dari pasar global, tetapi juga dari kompetisi antarprovinsi di dalam negeri. Karena itu, struktur biaya usaha, termasuk upah, perlu diselaraskan dengan tingkat produktivitas.

“Daya saing menjadi kunci. Kita harus memastikan keseimbangan antara upah dan produktivitas agar industri tetap tumbuh dan mampu bersaing,” ujarnya saat pembukaan Rakerkonprov DPP APINDO Jawa Timur di Kota Batu, Rabu (22/4/2026). Rakerkonprov tahun ini mengangkat tema "Dari Upah ke Produktivitas : Kolaborasi Pemerintah, Pengusaha & Pekerja Dalam Meningkatkan Daya Saing & Kesejahteraan".

Menurutnya, salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah struktur Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), khususnya di wilayah ring 1 Jawa Timur. Saat ini, besaran UMK di kawasan tersebut dinilai cukup tinggi sehingga perlu dikaji agar tetap mendukung keberlangsungan usaha tanpa mengabaikan kesejahteraan pekerja.

APINDO Jatim mendorong adanya penyesuaian atau rebalancing UMK secara proporsional. Di satu sisi, wilayah dengan UMK tinggi perlu dievaluasi, sementara daerah dengan UMK rendah didorong untuk meningkat ke level yang lebih layak, sehingga tercipta keseimbangan antar wilayah.

“Pendekatannya harus komprehensif dan melibatkan semua pihak, termasuk serikat pekerja, agar menghasilkan kebijakan yang berkelanjutan,” tambah Eddy.

Ia juga menyoroti bahwa penguatan daya saing tidak hanya bergantung pada upah, tetapi juga pada peningkatan produktivitas dan efisiensi industri. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sektor seperti industri alas kaki mulai berkembang di beberapa daerah di Jawa Timur seperti Ngawi, Nganjuk, dan Lamongan.

Ketua Panitia Rakerkonprov, Suryo Widodo, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebelumnya telah digelar pameran UMKM yang diikuti sekitar 20 peserta. 

“Ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem usaha yang terintegrasi, dari skala kecil hingga industri besar,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah daerah, dukungan terhadap penguatan daya saing juga terus didorong. Kepala Dinas Perizinan Kota Malang, Arief Tri Sastyawan, yang mewakili Wali Kota Malang, mengajak pelaku usaha untuk tetap optimistis dan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah.

“Diharapkan forum ini melahirkan rekomendasi strategis untuk memperkuat ekonomi daerah serta meningkatkan ketahanan menghadapi tantangan global,” katanya.

Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menambahkan bahwa iklim usaha yang kondusif menjadi faktor penting dalam menarik investasi. Ia menyebutkan bahwa investasi di Kota Batu mengalami peningkatan signifikan, bahkan mencapai dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

“Sebagai kota pariwisata berbasis jasa, stabilitas dan kenyamanan menjadi faktor utama bagi investor,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib mengundang para pelaku usaha untuk berinvestasi di wilayah Kabupaten Malang yang memiliki potensi besar dengan cakupan wilayah yang luas.

Melalui Rakerkonprov ini, APINDO Jatim berharap dapat merumuskan langkah konkret untuk memperkuat daya saing industri, menciptakan keseimbangan antara upah dan produktivitas, serta menjaga Jawa Timur tetap menjadi salah satu tujuan investasi unggulan di Indonesia. (KS-5)

Komentar