Di Bawah Bayang Geopolitik, OJK Nilai Keuangan Indonesia Tetap Resilien

KANALSATU – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 30 April 2026 yang menilai kondisi sektor keuangan Indonesia tetap resilien di tengah dinamika global.
“Kinerja perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian geopolitik, meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel pada 8 April 2026,” ujar Friderica dalam konferensi pers virtual, Selasa (5/5/2026).
Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Penutupan Selat Hormuz masih berlangsung akibat blokade yang dipertahankan pihak terkait, sehingga mengganggu distribusi energi global dan membuat harga minyak tetap fluktuatif di level tinggi.
Dalam laporan World Economic Outlook April 2026 bertajuk Global Economy in the Shadow of War, International Monetary Fund memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026. Risiko stagflasi pun dinilai meningkat akibat fragmentasi geopolitik, tekanan utang, serta gangguan rantai pasok.
Tekanan inflasi global juga terus meningkat, mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju.
Dari Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 diperkirakan melemah. Kenaikan harga energi dan barang kembali memicu inflasi, sementara sentimen konsumen menurun meski pasar tenaga kerja masih relatif kuat.
Di tengah kondisi tersebut, bank sentral AS, Federal Reserve, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April 2026.
Sementara itu, ekonomi Tiongkok tumbuh 5,0 persen pada kuartal I/2026, sesuai target pemerintah, ditopang kinerja ekspor dan sektor manufaktur. Meski demikian, momentum mulai melambat seiring perlambatan ekspor pada Maret 2026 dan lemahnya permintaan domestik.
Di dalam negeri, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan peningkatan belanja pemerintah.
Dari sisi permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis meskipun mengalami moderasi. Penjualan ritel tumbuh 2,4 persen secara tahunan, sementara penjualan kendaraan bermotor mengalami kontraksi.
Ketahanan eksternal Indonesia juga tetap kuat. Cadangan devisa pada Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, dengan neraca perdagangan mencatat surplus USD1,2 miliar.
OJK menilai kombinasi kinerja domestik yang solid dan stabilitas sektor keuangan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi tekanan global yang masih berlanjut.
(KS-5)